Rabu 20 Dec 2017 04:33 WIB

Fatimah Binti Al Mudzir Muslimah Ahli Hadis

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Agung Sasongko
Hadist (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Hadist (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perempuan-perempuan dalam sejarah Islam ternyata tidak selalu berada di bawah laki-laki baik, terutama dalam hal keilmuan. Banyak dari mereka yang juga menjadi ulama besar dan terkenal. Mereka bahkan memberikan peran besar terhadap kemajuan dunia Islam.

Fatimah binti al Mudzir satu dari banyak perempuan yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai perempuan ahli hadis. Ia bahkan mendapat pengakuan dari suaminya sendiri, Hisyam bin Urwah bin Zubair bin Awwam atau sering dipanggil Abu al Mudzir al Qursyiy.

Fatimah bahkan disebut-sebut sebagai guru oleh suaminya. Padahal, oleh Imam Adz Dzahabi, banyak hadis yang diriwayatkan oleh suami Fatimah yang juga kerap diterima. Hisyam bahkan mendapatkan gelar Syaikhul Islam.

Para ulama bersepakat bahwa suami Fatimah merupakan ulama dan imam dalam ilmu hadis serta periwayatannya. Ia sudah meriwayatkan lebih dari 400 hadis. Tapi, hadis yang diriwayatkannya tersebut sebagian besar merupakan hadis dari Fatimah, istrinya sendiri. Itu sebabnya, Fatimah disebut sebagai guru bagi suaminya.

Fatimah lebih tua dari suaminya. Suaminya pernah berkata tentang sosok Fatimah terkait keilmuannya tentang hadis. Kata Hisyam, Fatimah binti al Mudzir lebih tua dariku 13 tahun.

Fatimah merupakan tokoh besar di kalangan perempuan Tabi'in pada zaman itu. Ketika itu, Fatimah sama terkenalnya dengan ulama perempuan lainnya, yakni Karimah al-Marwaziyah (guru Ishaq bin Hammad). Dalam beberapa catatan tentang hadis-hadis yang diriwayatkan Fatimah, tokoh ini hanya meriwayatkan hadis dari kalangan perempuan. Sebagai contoh, saat berumur 14 tahun, Fatimah bertemu dengan Ummul Mukminin Ummu Salamah RA.

Hadis yang diriwayatkan Fatimah dari Ummu Salamah, yakni tentang usia menyusui. Hadis tersebut ditulis At Tirmidzi dalam kitabnya bahwa Ummu Salamah berkata, Susuan yang dapat mengharamkan pernikahan adalah susuan yang susunya sampai ke usus dan bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Hal itu dilakukan sebelum anaknya disapih.

Selain itu, Fatimah juga meriwayatkan beberapa pemikiran fikih dari neneknya, Asma binti Abu Bakar. Seperti dalam persoalan hukum puasa, ia berkata, Setiap kali hilal (bulan pertama). Ramadhan tidak terlihat jelas, Asma selalu mengawali puasa sehari sebelumnya dan beliau pun mengajak orang lain untuk melakukan hal yang serupa.

Kisah perjalanan Fatimah tersebut membuktikan bahwa perempuan dalam catatan sejarah Islam tidak selalu di bawah bayang-bayang laki-laki. Bahkan, keilmuannya mampu melampuai yang lainnya.

Fatimah dikenal sebagai seorang yang tekun sejak usianya masih anak-anak hingga akhir hayatnya. Ia berguru kepada ulama-ulama perempuan yang membuat wawasannya luas, terutama dalam dunia periwayatan hadis.

Meskipun Fatimah disebut sebagai guru dari suaminya sendiri yang juga ahli hadis, ia tetap bekerja sama dengan baik. Keilmuan hadis keduanya yang sama-sama mempuni membuat Fatimah dan Hisyam merupakan pasangan yang juga disegani dalam dunia ilmu hadis.

Keduanya bekerja sama dalam mengajarkan hadis kepada orang lain. Salah satu hadis yang mereka riwayatkan, yaitu tentang infak. Hadis tersebut berbunyi, Berinfak dan bersedekahlah dan jangan menunggu kelebihan harta. Sebab, apabila kalian menunggu kelebihan harta, kalian tidak akan dilebihkan sedikitpun. Dan apabila kalian bersedekah maka kalian tidak akan mendapatkan rasa kekuarangan.

Sampai akhir hayatnya, Fatimah disebutkan sudah meriwayat kan sekitar 400 hadis. Sebelum wafat, ia berpesan pada keluarganya, Apabila aku wafat, mandi kanlah aku serta kafani dan berikan wewangian. Kemudian, dia melanjutkan, Janganlah kalian hamburkan wewangian itu pada kain kafanku dan janganlah kalian iringi pemakamanku dengan membawa api.

Berbicara tentang ulama perempuan yang ahli dalam periwayatan hadis, banyak sekali yang bisa disebutkan. Misalnya, terdapat 78 perawi hadis perempuan. Mereka mendapatkan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Sebagai istri Nabi, Aisyah merupakan perempuan yang meriwayatkan hadis paling banyak.

Kemudian, disusul Hindun (istri Nabi), Maimunah (istri Nabi), Nashibah Umm `Athiyyah, Hafshah, Ramlah, Asma' binti Abu Bakar, dan Fathimah binti Qais. Selain itu, ada pula Fakhitah binti Abi Thalib dan Asma' binti Yazid. Wallahualam. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement