Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Islam Ajarkan Manusia untuk Hidup Berbangsa

Ahad 03 Dec 2017 15:40 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Karta Raharja Ucu

Ketua Umum DPP PPP Muhammad Romahurmuziy.

Ketua Umum DPP PPP Muhammad Romahurmuziy.

Foto: Antara/Budiyanto

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ketua Umum PPP, Muhammad Romahurmuziy menyampaikan penjelasan tentang pentingnya sikap nasionalisme dalam diri seorang Muslim untuk negaranya. Romy, sapaan akrabnya, memaparkan itu dengan mengacu pada Surat Al-Hujurat ayat 13.

Romy mengatakan, ayat tersebut menjelaskan tentang konsep kebangsaan bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai bangsa. "Konsep kebangsaan ada di Alquran karena Allah menciptakan bangsa-bangsa," tutur dia dalam acara diskusi Pengembangan Islam Rahmatan Lil Alamin dan Perspektif Multikultural di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur, Ahad (3/12)

Menurut Romy, ayat tersebut jelas memberikan pemahaman tentang manusia yang hidup secara berbangsa-bangsa. Konsep berbangsa-bangsa ini mengharuskan adanya perkenalan untuk mewujudkan sikap saling tolong-menolong di antara bangsa tersebut.

"Jelas di sana surat tersebut. Berbangsa-bangsa itu memang untuk taaruf (saling mengenal) untuk ta'awun (saling tolong menolong). Tidak mungkin bisa ta'awun tanpa ta'aruf. Pasti kita kerja sama dengan orang yang kita kenal," tutur dia.

Nabi Ibrahim, lanjut Romy, pernah doakan keselamatan kepada Makkah dan seluruh penghuninya. "Nabi Muhammad juga pernah berdoa ya Allah cintakan kami kepada negeri Madinah sebagaimana engkau cintakan kami kepada Mekkah. Di sinilah nasionalisme itu tak bertentangan dengan Islam," katanya.

Selain itu, Romy menerangkan bahwa tidak ada konsep negara di dalam Islam. Karena Rasul pun memberikan kebebasan untuk menggunakan bentuk negara apapun. Setelah wafat, lanjutnya, Rasulullah tidak menunjuk penggantinya tapi membiarkan para sahabat memilih di antara mereka. Rasulullah, ujar Romy, pun tidak mungkin lupa untuk memberitahukan kepada sahabatnya soal cara pemilihan pemimpin setelahnya.

Lalu ditunjuklah Abu Bakar. Abu Bakar dipilih melalui baiat, Umar bin Khattab dipilih langsung oleh Abu Bakar. Usman dipilih seperti pemilihan oleh lembaga perwakilan yang diisi enam orang terpercaya. Maka Usman bin Affan dipilih, dan kemudian Ali bin Abi Thalib dipilih lagi dengan cara baiat.

"Empat orang sahabat berbeda. Berarti urusan pemimpin adalah urusan dunia. Karena Rasul tidak mewariskan itu. Di dalam Islam, tidak ada nash yang qath'i bagaimana konsep negara Islam," jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA