Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Maulid Nabi Muhammad

Pengejawantahan Cinta Umat pada Nabi SAW di Kehidupan Kini

Jumat 01 Dec 2017 16:02 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Agus Yulianto

Para peziarah memadati area makam Rasulullah SAW di Madinah

Para peziarah memadati area makam Rasulullah SAW di Madinah

Foto: Yogi Ardhi/ Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan hari kelahiran nabi mulia junjungan manusia di bumi ini. Beliau adalah makhluk terpuji, untuk itu manusia patutnya senantiasa selalu melahirkan hal-hal terpuji di dalam segenap aktivitas sebagai kepanjangan Tuhan di muka bumi.

Muhammad senantiasa hadir kembali di tengah-tengah masyarakat, Muhammad seperti lahir kembali di tengah kegaduhan riuk pikuk dunia yang membara dan alam yang menggeliat seperti mengeluarkan energi yang selama ini mengumpat. Ia seperti memunculkan dirinya dalam setiap konteks pemikiran dan manifestasi peradaban dan kebudayaan juga dalam setiap produk dan ungkapan kemajuan zaman.

Namanya kerap dipanggil-panggil dan diagung-agungkan di setiap sudut ruang bahkan seantero Indonesia dan jagat semesta. Ribuan kali umatnya melakukan peringatan atas kelahirannya, suri tauladan Nabi MuhammadSAW. Setiap hari, setiap bulan, bahkan setiap tahun nama-nya dihayati sebagai manusia panutan bagi umat Muslim di bumi. Bahkan selain Muslim pun juga turut memujamu juga menghayati sikapmu.

Ahli agama dari Philosufi Centre Surabaya, Yusuf Daud menuliskan dua bab mengenai Muhammad dalam bukunya "Membenahi Sikap Beragama Kita,Menerrima Perbedaan, Keragaman". Dalam bukunya ia menceritakan kisah nabi yang dikemas dengan kekinian dan mudah diserap oleh jiwa masyarakat yang meneladani Nabi Muhammad sehingga dapat diejawantahkan dikehidupan sehari-hari.

Saat dimintai keterangan lanjutan oleh Republika.co.id, ia menyampaikan apa yang ia pikir saat ini dalam memeringati kelahiran nabi Muhammad, sudah tertuang semua di dalam bukunya bab III 'The Ascent' pada bagian 'Manusia yang Sukses Jadi Nabi, Nabi yang Sukses Jadi Manusia' dan'Muhammad, Muhammad, Betapa Kuselalu Rindu Pada-Mu'.

Di dalam bukunya ia merendah akan umat Islam yang masih jalan di tempat dalam pengejawantahan sikap hidup nabi. Kita hanyalah umat yang tak tahu berterima kasih akan keagungan manusia tauladan seperti Muhammad. Tidak cukup ada peningkatan penghayatan. Bahkan tidak terlihat output personal maupun sosial dari proses perenungan tentang kekonsistenan.

"Acara peringatan maulid-mu, ya Muhammad pada kami mengalami involusi bahkan mungkin degradasi dan distorsi," kata Yusuf. Dalam bukunya, Yusuf menuliskan di zaman sekarang adalah zaman banyak mengubah kehidupan dan manusia sendiri yang mengubah zaman, dengan kualitas percintaan kepada nabi yang tidak kunjung meningkat.

Manusia telah melalui berbagai zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin majunya namun tidak diikuti dahsyatnya perwujudan cinta manusia kepada Muhammad. Ia adalah negarawan agung yang dibandingkan zero dengan ketikusan politik manusia.

Muhammad adalah ilmuwan ulung dibandingkan kepandaian semu kami umatmu yang kerap sombong. Ia adalah penyelamat dan pembebas kemanusiaan. Ia adalah panglima kehidupan, mujahid pejuang, dan organisator juga manajer yang penuh keunggulan dibanding ketidaksetaraan umat manusia. Muhammad ya Muhammad, pantaskah kami mengaku umatmu?

Setiap hari, Muhammad, selalu dijunjung tinggi namanya. Umat Islam selalu rindu akan manusia agung sejagat ini. Buku-buku klasik dari berbagai belahan dunia telah terangkum untuk menuliskan tentang Muhammad yang dapat diambil hikmahnya bagi manusia untuk diimplementasikan kekehidupan masing-masing manhusia di dunia dalam hidup berbangsa dan bernegara. Senantiasa umat muslim membaca shalawat kepadanya, Nabi pembawa rahmat semesta alam, utusan Allah yang selalu memikirkan umatnya.

Dalam bukunya, Yusuf Daud yang akrab disapa Romo Yusuf ini mengandaikan jika manusia berada di dekat Muhammad tepat duduk di samping kursi umat masing-masing. Ia akan mengucapkan salam dan berbicara kepada umat dan menanyakan kepada umatnya. Hal ini membuat orang yang membacanya terketuk dan tersadar akan kecintaan sesungguhnya kepada nabi besar junjungan nabi besar Muhammad.

Bagaimana jika Muhammad mengucapkan salam kepada umat dan duduk tepat disamping kita dan menanyakan ketaatan iman umat kepadanya? Sudah pernahkah engkau wahai umatku membaca atau mendengar habis tentang riwayatku? Sudahkah keimananmu wahai umatku kepada Allah dan Aku membuatmu tentram, bahagia dan damai sehingga tidak mencari damai dikeimanan lain? Sudahkah engkau wahai umatku siap untuk mengorbankan apapun ketika sunnahku mengharuskan engaku berkata benar dan bertindak tegas dan kedudukanmu adalah taruhannya? Benarkah cintamu kepadaku lebih dalam dan besar dari cintamu kepada harta, jabatan dan keluargamu?

Wahai umatku, apakah saat engkau membaca shalawatku dan bersenandung memujiku, sudahkah engkau menghayati maknanya dan merenungi arti yang terkandung di dalamnya? Masikah engkau wahai umatku mengingat isi shalawat dan pesanku ketika engkau berada di rumah, proyek, saatengkau melakukan tender bisnis, saat berhadapan dengan kolega, saat diskon besar-besaran di mal, saat membahas RUU, saat membuka tabungan di bank, saat melihat korban bencana? Atau jangan-jangan engkau hanya membaca shalawat untuk menggagalkan kewajiban saja dengan harapan aku akan memberimu syafaat di padang mahsyar di hari kiamat nanti? Mulutmu mengucap tetapi batinmu kosong, pikiranmu menerawang, dan perbuatanmu teramat jauh dari sunnahku.
 
Ah Muhammad, Muhammad rasanya kami, sebagai umatmu tidak pantas untukselalu dipirkan olehmu. Tapi kami umatmu selalu rindu dan mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan. Luapan cinta kami susah terbendung oleh apapun kepadamu.

Masih mengenai buku yang ditulis empat bab oleh Romo Yusuf, umat Muhammad diajak sadar dan pasrah akan diri ini yang masih jauh dari ketaatan kepada Muhammad. Sesungguhnya kami, manusia dalam buku Romo Yusuf, belum mencapai mutu kepribadian yang mencukupi untuk disebut sebagai sahabatnya.

Digambarkan dengan kami mencintainya namun, kami belum benar-benar mengikutimu, ya Muhammad. Kami masih takut akan pikiran-pikiran kami sendiri yangterus berlalu-lalang tak karauan. Kami masih kecut dengan atasan.Kami menunduk kepada benda-benda. Kami bersujud kepada uang. Kamimendambakan kekuasaan.

Kami hanyalah manusia yang tak memiliki kesediaan, keberanian, dankerelaan yang sungguh-sungguh utnuk mengikuti jejak langkahmu wahaiMuhammad junjungan kami. Terima kasih wahai Rasulku atas tauladanmu,engkau memberikan banyak nasihat melalui hadist dan Alquran yangmenjadi pedoman hidup kami.

 

sumber : Daud, Yusuf. Membenahi Sikap beragama Kita; Menerima Perbedaan, Merangkul Keragaman. Liris. Jakarta: 2013.
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA