Ahad 02 Jul 2017 21:00 WIB

Reinstalling Nilai-Nilai Luhur

Ramadhan
Foto: IST
Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan hubungan seks. Yang lebih penting, puasa sebagai proses reinstalling nilai-nilai luhur (fitrah) yang mung kin selama ini terjangkiti virus ma terialisme yang akut. Puasa ber fungsi sebagai recharging energi feminin dan kelembutan ke dalam jiwa kita. Puasa juga berfungsi sebagai spiritual training untuk mencontoh sifat-sifat rububiyah Tuhan, sebagaimana diserukan da lam hadis, takhallaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT).

Alquran menyebutkan, huwa yuth'im wa la yuth'am (Tuhan mem beri makan dan tidak diberi makan) (QS 6: 14) dan lam takun lahu shahibah (Tuhan tidak memiliki pasangan) (QS 6: 101). Bukan kah dalam berpuasa kita tidak bo leh makan, minum, dan berhubung an seks, sebaliknya kita diwajib kan berzakat fitrah, yaitu memberi ma kan orang yang butuh. Dengan ber puasa, kita berharap memperoleh memori spiritual baru yang bersih dari berbagai virus yang menghalangi nurani kita untuk menjalani kehidupan ini secara benar, sesuai dengan tuntunan Ilahi.

Dengan menjalani ibadah pua sa, kita berharap mencapai kualitas in san kamil (manusia paripurna), kua litas spiritual yang paling di dam bakan oleh para pencari Tuhan (salik). Insan kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifatsifat Tuhan ke dalam diri kita sebagaimana dicontohkan oleh teladan kita, Rasulullah SAW.

Bulan puasa disebut juga bulan Ramadhan (secara harfiah berarti menghanguskan, menghancurkan). Setelah sebelas bulan kita terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana perta rungan (power struggle), da lam bulan Ramadhan kita diajak un tuk kembali ke kampung ha la man ro hani kita yang sejuk dan pe nuh dengan suasana lembut (nurturing). Bulan Ramadhan ibarat oasis di tengah padang pasir, ia mem berikan kepuasan kepada kafi lah yang sedang berlalu. Bulan Ra madhan adalah manifestasi dari rahmaniyah dan rahimiyah Tuhan.

Allah SWT menggambarkan diri-Nya di dalam dua kualitas, ya itu kualitas kejantanan (jalaliy yah/strug gling) melalui sifat-sifat- Nya yang lebih menonjol se bagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang daripada Tu han Yang Maha Pemurka dan Maha Pendendam. Seolah-olah, Allah SWT memperkenalkan diri-Nya ti dak untuk ditakuti, tetapi untuk dicintai. Seorang yang mendekati Tuhan lewat pintu maskulin akan mengesankan Tuhan bersifat tran sen den, jauh, berserah diri, struggling, dan menakutkan. Di sisi lain, seseorang yang mendekati Tu han lewat pintu feminin akan me nge sankan Tuhan bersifat imanen, de kat, dominan, struggling, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti.

Di dalam bulan suci Ramadhan, Tuhan lebih terasa sebagai The Feminine God daripada The Masculine God. Menurut para sufi, jalur tercepat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Tuhan ialah jalur yang pertama. Bahkan, Syekh Muhyid din ibn 'Arabi pernah mengatakan kepada muridnya, ''Jika kalian ingin memotong jalan menuju Tuhan, terlebih dahulu kalian harus menjadi 'perempuan'.''

Menurutnya, unsur kelelakian merepresentasikan sifat Aljalal Tuhan, sedangkan unsur keperempuanan merepresentasikan sifat Aljamal Tuhan. Dalam bulan suci Ramadhan, yang juga disebut bulan cinta (Syahr Alhubb), Tuhan lebih banyak memperkenalkan dirinya sebagai The Feminine God.

Sebagai orang yang berpuasa, selayaknya tidak hanya menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makh luk-makhluk Tuhan yang lain. Ideal nya, orang yang berpuasa su dah dapat menciptakan kualitas ukhuwah basyariyyah, ukhuwah Islamiyyah, dan ukhuwah makhlu qiy yah sebagai sesama ciptaan Tu han. Kualitas muttaqin yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang menjalankan puasa secara ikhlas dan baik bukanlah janji sederhana. Kua litas muttaqin merupakan dam baan setiap orang. Seorang yang memiliki takwa akan mera sakan kelapangan dada, meniru si fat Tuhan yang Maha la pang (Alwasi').

Berbeda dengan orang yang tidak memiliki unsur ketakwaan, selalu diwarnai suasana batin yang fluktuatif. Jika dihujat, dadanya terasa sumpek dan jika disanjung, leher nya akan bertambah panjang. Orang yang bertakwa sulit dikenali kapan ia ditimpa musibah dan ka pan ia dikaruniai rezeki. Ia memberikan respons yang biasa untuk semua yang datang kepadanya.

Bagi orang yang bertakwa, mu sibah dan bala serta berbagai ben tuk penderitaan dan kekecewaan lainnya dianggap sebagai 'surat cinta' Tuhan. Mungkin, selama ini, Tuhan ingin menyapanya, tetapi ia tidak sensitif karena ditutupi oleh berbagai kecukupan hidup. Lalu, Tuhan mengirim trigger berupa musibah atau cobaan untuk mende katkan dirinya kepada Tuhannya.

Tidak sedikit orang yang ditimpa musibah dan bencana kemudian menjadi lebih dekat dengan Tuhannya, jauh lebih dekat ketimbang sebelum musibah dan bencana itu datang. Bahkan, bagi orang yang bertakwa, dosa dan maksiat pun dijadikan pintu masuk untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia betul-betul menyesali serta meratapi dosa dan maksiat itu se hingga membuat dirinya lebih pas rah kepada Tuhan. Kalau Tuhan akan memasukkannya ke dalam ne raka, ia pasrah karena memang me rasa pantas masuk ke dalam neraka dengan dosanya itu.

Orang yang bertakwa akan me nyadari Allah SWT sebagai Tuhan alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos). Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khalaif al ardl), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan manusia daripada Tuhan makro kosmos.

Manusia sebagai khalifah se layaknya menjalankan fungsi ke khalifahannya senantiasa mengidentifikasikan diri dengan The Fe minine God. Jika demikian, sudah barang tentu tidak akan pernah terjadi disrupsi lingkungan alam dan lingkungan sosial. Sebaliknya, yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahmatan li al 'alamin) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldah thayyibah wa Rab Al Gafur) di tingkat mikro kosmos.

Hanya mereka yang berpuasa yang dapat menjelaskan kaitan segitiga antara Tuhan, mikrokosmos, dan makrokosmos. Semoga Ramadhan kita kali ini membuat kita lebih feminin. n

Prof Dr Nasaruddin Umar

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement