Selasa 07 Feb 2017 04:40 WIB
Belajar Kitab

Bahjat Al-Majalis Wa Unsul Al-Majalis Adab Bersastra

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Sastra Indonesia, ilustrasi
Foto: ist
Sastra Indonesia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konon, kepiawaian cendekiawan Muslim pada abad pertengahan tak hanya berpaku pada ilmu keagamaan. Sejumlah ulama memiliki perhatian penuh akan sastra dan adab kultural Arab klasik. Bedanya, analisis dan pendapat yang mereka tawarkan lain dengan penyair ataupun pemerhati sastra pada umumnya.

Pemikiran sastra ilmuwan Muslim itu kental dengan nilai-nilai religi yang bersumber pada teks-teks keagamaan. Teks tersebut bisa berupa ayat Alquran, hadis, hingga kalam bijak para salaf.

Melalui kitab berjudul Bahjat al-Majalis wa Unsul al-Majalis Wa Syahdz ad-Dzahin Wa al-Hajis, Ibnu Abd al-Barra mencoba menghadirkan gambaran tentang sastra yang sarat dengan muatan etika. Tokoh dengan nama lengkap Yusuf bin Umar bin Abd al-Barr bin Abdillah bin Muhammad bin Abd al-Barr An Namari al-Qurthubi itu mengutip berbagai literatur tentang adab. Sebagian besar ia peroleh dari para gurunya. Ada banyak tujuan yang hendak ia capai. Penulisan bukunya tersebut adalah sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah.

“Ini akan mendorong pada kemuliaan dan mencegah berbuat hina,” katanya. Ia menambahkan, “Kejadian-kejadian unik Arab kuno yang positif mengajak untuk mengikuti jejak kebaikan mereka.” Dan, yang paling penting, kajian apa pun tentang sastra dan adab Arab kuno berguna untuk mempertahankan lokalitas dan kemurnian dialek berikut karakter Arab kuno.

Mengenai sistematika penulisan, kitab yang ditulis tokoh kelahiran Cordova pada 368 H/ 978 M ini penyusunannya sederhana. Ia membagi kitabnya ke dalam 132 bab. Setiap bab memuat tentang perkara dunia dan akhirat. Pada permulaan setiap bab, putra dari Abdullah bin Muhammad itu menyertakan ayat Alquran, hadis nabi, lantas menukil syair-syair dari para pujangga Arab dengan beragam nilai di dalamnya.

Bila dibandingkan kitab di bidang yang sama, gaya penulisan itu mirip dengan metode yang digunakan Ibn Qutaibah di kitabnya, Uyun al-Akhbar atau kitab al-Iqdul Farid, karangan Ibn ‘Abd Rabbih. Hanya, bila menelisik lebih jauh, justru kemiripannya lebih mendekati metode al-Jahidz pada karyanya yang berjudul al-Mahasin wa al-Adhdad. Hampir pada tiap bab, Ibn Abd al-Barr menulis dua makna berbeda yang saling menguatkan. “Agar variatif, mengena, dan berfaedah,” tulisnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement