Senin 24 Oct 2016 19:00 WIB

Jejak Sejarah Islam di Libya

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko
Libya
Foto: english.aljazeera.net
Libya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam telah mengakar kuat di negara Republik yang terletak di tepi Laut Tengah, Afrika Utara ini. Libya, termasuk negara nomor empat terluas di benua Afrika. Sebelah selatan berbatasan dengan Chad, barat dengan Aljazair, barat laut dengan Tunisia, barat daya dengan Niger, timur dengan Mesir dan tenggara dengan Sudan.

Benson Bobrick dalam Kejayaan Sang Khalifah Harun ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia Pada Zaman Keemasan Islam menerangkan Jantung Afrika Utara yang dikenal sebagai Maghrib (sebuah kawasan yang kurang lebih sama dengan Tunisia modern) sebagian besar dihuni oleh bangsa Berber, sebuah kelompok suku non semit non Arab.

Mereka adalah sebuah bangsa yang kuat, hebat, banyak dan pemberani. Seperti digambarkan oleh sejarawan Arab Ibnu Khaldun dan pada awalnya mereka tidak menyukai masuknya Islam ke dalam hidup mereka.

Namun seperti bangsa Arab, mereka adalah orang-orang anggota klan dan memiliki pemujaan yang sama terhadap garis keturunan dan kedudukan. Akhirnya, sebuah provinsi kerajaan baru bernama Ifriqiyah yang meliputi seluruh bagian Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko-pada dasarnya Afrika barat laut) didirikan dengan Qayrawan (sebelah selatan Tunis di masa modern) sebagai jantungnya.

Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia diterangkan, Libya menjadi daerah jajahan Roma pada 46 M. Orang-orang Roma, mengubah Tripolitania menjadi produsen utama minyak zaitun melalui penanaman pohon-pohon zaitun. Daerah ini berkembang subur di bawah Kaisar Septimus Severus (193-211 M). Agama Kristen berkembang pesat pada masa ini.

Setelah kemunduran Roma, Islam dengan mudah masuk ke Cyrenaica pada  642 M. Pada 800 M, Khalifah Abbasiyah, Harun al-Rashid menunjuk keluarga Aghlab menjadi gubernur turun temurun di Afrika Utara. Pada 910 Tripoli jatuh ke tangan orang-orang Fatimid yang mendirikan sebuah khalifah tandingan, Shiite, di Tunisia.

Pada abad ke 16 Turki Ottoman menaklukan tiga wilayah Libya yaitu Fezzan, Cyrenaica, dan Tripolitania. Kekuasaan di wilayah ini bertahan hingga 1835.

Doktor Sejarah Islam Universitas Montreal Kanada, Iik Arifin Mansurnoor dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam menjelaskan, Libya telah dianggap menjadi wilayah Utsmani sejak Sultan Salim merebut Mesir dari tangan Dinasti Mamluk pada 1517.

Libya menjadi wilayah Otonom justru setelah diperintah oleh gubernur Utsmani. Sebelum abad ke-16, boleh dikatakan Libya seakan-akan tidak mempunyai identitas yang mandiri atau dalam istilah sejarawan Ira M Lapidus, negeri yang tanpa sejarah. Sejak dikuasai oleh Khalifah Umayyah dan kemudian Abbasiyah, Libya biasanya diletakan di bawah penguasaan gubernur di Mesir.

Libya khususnya bagian timur-Fazzan dan Sirenaika- menjadi bagian dari wilayah Mesir sampai zaman Dinasti Mamluk (memerintah Mesir antara 1250-1517).

Sewaktu Mesir ditaklukan oleh Sultan Salim pada 1517, Libya diklaim menjadi wilayah Utsmani. Sebenarnya baru pada 1551 Tripoli diambil alih ke dalam kekuasaan Utsmani. Dengan demikian negeri yang kemudian dikenal dengan Libya ini keseluruhannya telah berada di bawah kekuasaan Utsmani.

Hingga berdirinya Dinasti Qaramanli pada 1711, Libya diperintah oleh gubernur Ottoman (pasya) yang dibantu oleh tentara Janissary.

Dinasti Qaramanli yang berasal dari perwira Janissary memerintah Libya hingga 1835. Secara umum, penguasa Qaramanli tetap mengakui Sultan Ottoman sebagai pemimpin, dengan bukti penyerahan upeti tahunan. Dengan semakin kuatnya pengaruh Perancis dan juga Inggris di Laut Tengah sejak awal abad ke 19, Dinasti Qaramanli semakin terdesak.

Hal ini mendorong Istanbul untuk menggantikan penguasa Qaramanli dengan gubernur yang dikirim langsung oleh Sultan. Tetapi gubernur Ottoman ini hanya menguasai bagian barat yang berpusat di Tripoli, sedangkan bagian timur dibiarkan dikuasai oleh pemimpin lokal yang mengakui kedaulatan Utsmani.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement