Kamis 29 Sep 2016 08:27 WIB

Terus Diteror, Muslim Jerman Diselimuti Kekhawatiran

Rep: Wahyusuryana/ Red: Ilham
Muslim Jerman
Muslim Jerman

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Serangan bom yang menimpa Masjid Dresden meninggalkan trauma besar bagi Muslim Jerman. Pihak berwenang diminta memberikan kepastian keamanan yang lebih besar kepada lembaga-lembaga Islam yang ada.

Ketua Islamic Council di Jerman, Ali Kizilkaya, merasa serangan yang menergetkan lembaga Islam beberapa bulan terakhir telah mencapai titik sangat mengkhawatirkan. Maka itu, ia meminta pihak berwenang mengambil langkah mendesak demi mengatasi permasalahan tersebut.

"Serangan terhadap masjid dan lembaga keagamanan merupakan peningkatan kekhawatiran sehubungan dengan kebebasan, kebebasan beragama dan demokrasi di Jerman," kata Kizilkaya seperti dilansir Anadolu Agency, Kamis (29/9).

Hal serupa disampaikan Direktur Hubungan Eksternal The Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (DITIB), Zakeriya Altug. Ia mengingatkan teror retorika anti-Islam dari sayap kanan dan partai populis. DITIB sendiri merupakan serikat Turki terbesar di Jerman.

 

"Serangan (Masjid di Dresden) menunjukkan tren baru yang mana tindakan pelaku bisa menyebabkan orang-orang terbunuh," ujar Altug.

Altug menerangkan, serangan terbaru ini merupakan yang ketiga selama sepekan, dan menargetkan masjid yang dikelola oleh DITIB. Pekan lalu, Masjid DITIB di Bebra, yang merupakan kota kecil di Jerman tengah, diteror oleh serangan bom molotov.

Selain itu, Masjid DITIB di Schwabisch Gmund yang ada di Jerman Selatan, dirusak orang tidak dikenal dan terdapat coretan di dinding masjid. Altug menuturkan, gelombang baru kekerasan ini didorong politisi yang khawatir akan krisis pengungsi dan teroris di Eropa.

"Beberapa politisi mulai mengadopsi propaganda anti-Muslim, tapi kelanjutan tindakan ini akan mendorong ekstrimis sayap kanan," kata Altug.

Tahun lalu, DITIB mencatat terdapat 99 serangan yang menimpa masjid di seluruh Jerman. Jumlah serangan meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2012, dan diperkirakan akan terus meningkat tahun ini karena menyebarkan retorika anti-Muslim.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement