Kamis 15 Sep 2016 15:33 WIB

Masjid Raya Koln, Pusat Kebudayaan Islam di Nordrhein-Westfalen

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agung Sasongko
Masjid Koln, Jerman.
Foto: Koln.de
Masjid Koln, Jerman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Masjid Raya Koln, dalam bahasa Jerman disebut DITIB-Zentralmoschee Koln. Orang-orang Turki  di Jerman menyebutnya  Merkez Camii.

Bangunan yang dimaksud adalah sebuah masjid baru yang dibangun komunitas Turki, Diyanet Isleri Turk Islam Birligi (DITIB) di Koln. Kompleks masjid ini terdiri atas halaman yang terbuka menghadap ke Venloer Strasse, Koln. Luasnya  4.500 meter persegi ditujukan untuk menampung 2.000-4.000 orang. 

Masjid Raya Koln merupakan sebuah masjid terbesar di wilayah Koln, menjadi pusat kegiatan dan kebudayaan Islam di salah satu negara bagian Nordrhein-Westfalen.

 

Masjid Koln ini selesai dibangun pada 2011. Masjid ini didesain dalam gaya arsitektur Ottoman, dengan dinding kaca, dua menara, dan sebuah kubah. Secara garis besar, masjid ini memiliki toko  di pintu masuk lantai dasar, ruang kuliah di lantai dasar, dan ruang shalat di lantai atas dan termasuk perpustakaan.

Kompleks ini utamanya tercirikan oleh ruang shalatnya. Ruang lapang ini terdiri atas beberapa dinding berlapis mirip cangkang kerang.

Di tengah dinding-dinding ini dibangun kubah kaca yang dilimpahi cahaya. Kubah dengan tinggi mencapai 35 meter ini dibuat seperti bola dunia yang transparan, sehingga bagian dalam masjid bisa terlihat dari luar. Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan dua buah menara setinggi 55 meter. Sementara eksterior bangunan utama, bangunan pendukung, dan menara masjid didominasi warna putih.

''Ruang shalatnya sangat terbuka dan kita membuat ruang persegi yang luas ini, yang mengundang orang dari semua agama,'' kata Paul Bohm, sang arsitek. Sebuah rancangan yang ditujukan untuk mengomunikasikan keterbukaan dan suatu undangan untuk menjenguk ke dalam.

Menurut Bohm, hiasan jendela kaca tersebut akan memberikan pengunjung memiliki perasaan ketenangan, sangat terbuka ketika berada di dalam masjid. Rasa luas dan keterbukaan ini, menurut dia, semakin terlihat dari tangga masuk dari arah jalan. Pengembang berkeinginan agar lingkungan luar masjid akan semakin terbuka dan menerima semua komunitas Muslim di lingkungan tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement