Jumat 12 Feb 2016 14:38 WIB

Universitas Al Azhar Kairo Berhasil Melawan Ideologi ISIS

Rep: melisa riska putri/ Red: Damanhuri Zuhri
 Suasana Masjid Al-Azhar yang terletak di kawasan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.   (Republika/Agung Supriyanto)
Suasana Masjid Al-Azhar yang terletak di kawasan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Sebuah universitas mengklaim berhasil memenangkan pertempuran ideologi terhadap kelompok militan ISIS setelah menyerang propagandanya dan menghentikan pemuda muslim menjadi radikal.

Universitas Al-Azhar di Kairo sebagai salah satu universitas Islam tertua dan paling berpengaruh itu melawan ISIS dengan cara lain. Universitas memilah-milah puluhan publikasi ISIS di delapan bahasa yang berbeda.

Mereka menggunakan penelitian itu untuk memperlihatkan kepada pemuda muslim yang ditargetkan perekrut, bagaimana militan memutar teks Islam yang asli dan salah menafsirkannya sebagai pembenaran bagi rezim tersebut.

Proyek ini bertujuan untuk menghentikan orang-orang bergabung dengan ISIS atau yang juga dikenal dengan Daesh. Tapi hanya sedikit yang mereka bisa lakukan terhadap puluhan ribu orang yang telah pergi bergabung dengan ISIS.

 

"Mungkin mereka (anggota ISIS) tidak akan pernah membaca buku-buku kami atau mengunjungi website kami, tetapi ada banyak orang lain yang belum (bergabung) tapi berpikir untuk melakukannya dan kami mencoba untuk menyelamatkan orang-orang ini," ujar Kepala unit Urdu Reham Abdullah dilansir Daily and Sunday Express, Jumat (12/2).

Sementara itu, mereka yakin dapat menggunakan sumber daya mereka untuk mengalahkan pengaruh ISIS melalui internet. Penasehat senior untuk Grand Mufti Ibrahim Negm mengatakan, ada 'kanker' propaganda yang menyebar dalam tubuh dunia.

Ia meminta semua orang untuk menyadari bahwa kanker tersebut tidak akan menyebar hanya di Timur Tengah tetapi di mana-mana. "Kita harus menjaga seluruh generasi, generasi online yang terpaku pada media sosial dan tidak memiliki akses ke pengetahuan yang tepat," katanya.

Menurut Negm, analis Barat menilai respon pihaknya lambat. Tapi sejauh ini, ia merasa  tidak ada ruang bagi analis moderat untuk berbicara dan berdiskusi.

Sementara itu Sabre el-Qasami, mantan militan yang bertahun-tahun dipenjara dan menjalankan program deradikalisasi informal mengatakan, niat kelompok universitas positif. Namun, sumber daya mereka kurang bila dibandingkan dengan orang-orang dari ISIS.

"Al-Azhar membutuhkan lebih banyak dukungan dan lebih banyak kebebasan untuk mempelajari lebih dalam masalah pemuda yang tertarik dengan teroris," kata Qasami.

Menurut pendapatnya, perjuangan bersenjata melawan terorisme akan memiliki hasil yang mengerikan dan akan menciptakan lebih banyak simpati bagi para teroris. "Masalah ini perlu perjuangan ideologis secara paralel untuk pertempuran bersenjata di tanah," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement