Kamis 28 Jan 2016 17:13 WIB

Tafsir Selektif Terhadap Alquran Dinilai Tumbuhkan Radikalisme

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Achmad Syalaby
Tahun ini Alquran sudah diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa daerah.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Tahun ini Alquran sudah diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG—Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah dan ormas Islam di daerah ini memandang penting penegasan kembali posisi Islam dalam sebuah negara demokrasi- pluralistik, seperti  Indonesia. Terlebih adanya upaya kaum teroris yang berupaya mendompleng nama agama dalam setiap aksinya.

Ketua MUI Jawa Tengah, KH Ahmad Daroji mengatakan, forum silaturrahim Ormas Islam mengidentifikasi dua faktor yang menyimpan potensi radikalisme. Pertama, penafsiran atas  Alqur’an  dan As Sunnah tidak hanya secara tekstual rigid, tetapi juga sangat selektif.

 Akibatnya,  keterkaitan antar firman Allah dengan sabda Rasulullah menjadi hilang. Tafsir keras dan mutually exclusive mengabaikan dan meniadakan pandangan-pandangan para ulama lain.

Kondisi ini masih didukung dengan kepandaian mereka ‘mencuci otak’ dengan membangun ilusi kesurgaan dan jihad di kalangan remaja yang sungguh sangat menakjubkan.

Kedua, masih kata Ahmad daroji, rivalitas komunitas sunni dengan komunitas syiah dan antara komunitas wahabi dengan syiah juga menaburkan benih- benih kebencian di sebagian kalangan umat Islam.“Mereka yang berselisih itu mengubahnya menjadi pertikaian massal sebagai upaya sistematis untuk mengalahkan satu sama lain secara fisik,” jelasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement