Ahad 01 Nov 2015 19:53 WIB

'Universitas Oxford' di Gible

Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Foto: nfvf.co.za
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Geliat pembelajaran Islam di kawasan Sub Sahara juga terlihat di Kota Gbile, Sierra Leone. Di kota yang membentang di jalur barat Sub Sahara ini, seorang tokoh Islam, yakni Fode Ibrahim Tarawali, mendirikan sekolah pendidikan tinggi yang bernama Billeh pada 1831.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh David E Skinner dan Edward Blyden dinyatakan bahwa Billeh di Gbile layaknya Universitas Oxford yang berada di Inggris. Keberadaan Billeh menandakan bahwa Gbile merupakan salah satu pusat pembelajaran Islam di Sub Sahara.

Di sebelah utara Sierra Leona, tepatnya di Senegal, terdapat sebuah universitas yang didirikan oleh Khaly Amar Fall. Universitas yang diberi nama Pir Saniokhor itu dibangun pada 1611. Tokoh-tokoh Islam Senegal, seperti Omar bin Said, Malik Sy, dan El Haji Umar Tall pernah menempuh pendidikan di universitas ini.

Alumnus lain dari universitas ini adalah Mass Kah yang berasal dari Gambia. Apa yang ia lihat dan rasakan selama menempuh pendidikan di Universitas Pir Saniokhor menginspirasinya untuk mendirikan permukiman dan lembaga pendidikan serupa yang ia beri nama Madinah.

Nah, di sebelah timur Senegal, membentanglah negeri yang selama ini kesohor sebagai pusat aktivitas keilmuan Islam di Sub Sahara. Negeri itu adalah Mali. Di negeri ini, terdapat beberapa kota yang menjadi sentra pembelajaran Islam, yakni Timbuktu, Kabura, dan Jenne.

Kabura merupakan kota kelahiran guru Fulani Moddibo al-Kaburi, tokoh perintis cendekiawan di Timbuktu. Di Timbuktu sendiri terdapat lembaga pendidikan yang sangat terkenal pada masa itu, yakni Universitas Alquran Sankore. Selain universitas ini berdiri pula ratusan madrasah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement