REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada perbincangan sebelumnya, Prof. James B Hoesterey meyoroti peran Islam Indonesia dalam mempromosikan ajaran Islam yang damai. Berikut lanjutan wawancara ROL bersama guru besar antropologi Universitas Emory, Atlanta, AS ini.
Model atau karakteristik Islam Indonesia yang seperti apa yang bisa ditawarkan kepada dunia internasional?
Nah, ini yang menjadi kontroversi di Indonesia. Apakah itu Islam Nusantara, apakah itu Islam berkemajuan, kalau kita membedakan tema muktamar Muhammadiyah dan NU tahun ini. Tetapi, yang kami lihat, kalau kita mau lihat budaya populer, jilbab seperti yang ada di Indonesia ini kalau pergi ke Arab Saudi tidak ada. Kalau pergi ke negara lain, tidak ada. Yang itu. Dan itu menarik sekali.
Dan bukan hanya jilbab. Tetapi, kalau kita lihat lewat cara Islam menyebar di Indonesia, walaupun ada sebagian sebenarnya yang tidak terlalu damai, sebagian besar damai. Dengan orang menjadi teladan, para penguasa lama-kelamaan masuk Islam. Dan lama-lama sampai ratusan tahun, 90 persen orang Indonesia Muslim.
Jadi, kalau Islam seperti apa yang khas di Indonesia, selalu ada orang yang akan berdebat. Bahwa itu sebenarnya bukan khas Indonesia. Jadi, saya sebenarnya agak ragu untuk masuk ke sana. Apakah itu Islam Indonesia, saya sangat setuju dengan Prof Azra, Islam itu satu kalau kita lihat dari perspektif Alquran. Tetapi, yang menarik itu, pedoman beribadah, how to-nya itu harus diambil dari yang lain. Karena itu, ada ulama.
Mungkin tidak masuk ke fikih, tapi ke adab sehari- hari. Nah, masuk ke ranah fikih akan membawa kita kepada kompleksitas mazhab. Tidak demikian dengan adab, gampang dilihat mana yang soft Islam.
Apa saja langkah untuk mengampanyekan Islam moderat?
Menurut saya, paling menarik adalah diplomasi kultural antarpersonal (people to people diplomacy).
Karena, sebenarnya kita terlalu fokus pada presiden atau kementerian. Itu memang penting, tapi ada pernyataan dari Margareth Mead (peneliti antropologi budaya asal Amerika), dia bilang begini, "Never doubt that a small group of thoughtful, committed citizens can change the world. Indeed it is the only thing that ever has."
Jadi, saya rasa akan sangat baik kalau ada program untuk memperkuat atau memperbanyak program pertukaran pelajar, misalnya. Kalau pertanyaan sudah, apakah ini teori konspirasi, apakah itu memang Amerika mau menyerang sana-sini.
Aduh... Saya punya prinsip, kalau ada program pertukaran pelajar yang lebih kuat antara negara Islam dan negara Barat, mereka bisa lihat dengan mata kepala sendiri, ini Islam yang ada di Amerika. Walaupun sebenarnya ada juga Islamofobia, ada. Tapi, ada juga jutaan Muslim yang tiap hari shalat, tiap hari bersedekah, tiap tahun berzakat. Itu people to people diplomacy.
Saya waktu penelitian S2 ada ibu angkat dari Bintaro tidak jauh dari sini. Kalau saya menjadi presiden misalnya, tidak mungkin saya mengebom Jakarta. Aduh, kasihan ibu angkat saya. Jadi, kalau kita ada sahabat, ada saudara di negara lain, kita akan pikir dulu, ah mungkin negara itu tidak sejelek yang dikatakan orang. Dan bukan kepada Amerika saja. Mungkin orang Amerika juga harus pikir dulu, ah mungkin Islam tidak sama dengan teroris.
Kalau belum kenal dengan Muslim, bagaimana kita tahu. Ini ada statistik di AS, kurang lebih 50 persen orang Amerika belum pernah berjumpa dengan Muslim. Menurut saya, itu kesempatan emas untuk program people to people diplomacy. Jadi, walaupun sebagai akademisi, saya bisa melihat dengan, bukan kritis, bukan mengkritik, melainkan dari segi analisis sosial, itu berbeda. Sebagai manusia, hanya itu yang bisa mengubah hati seseorang.
Itu baru bisa menuju ke kedamaian. Menurut saya ya, saya hanya orang biasa. (Sambil tertawa lepas).
Bagaimana Anda melihat kiprah ormas Islam di Indonesia?
Ya, itu sangat penting. Itulah bedanya mengapa di Timur tengah, di Mesir, di Tunisia, Arab Springnya gagal.
Karena peran ormas, ada ormas sebenarnya di Mesir, tetapi kebanyakan ormas, termasuk Ikhwanul Muslimin, dipinggirkan bahkan orang-orangnya dimasukkan ke penjara. Itu sudah menjadi Arab Winter.
Tetapi, kalau di Indonesia, keberadaan NU dan Muhammadiyah itu bisa menjadi mediator antara negara dan masyarakat sipil. Peran tentara juga sangat menentukan. Tentara di Mesir, karena tidak ada atau belum ada sistem ormas yang begitu kuat, gampang tentara ambil kekuasaan lagi. Gampang tentara menyisihkan mereka, bahkan membunuhnya. Kalau di Indonesia, kedua kelompok itu tidak terlalu sulit untuk disinergikan.
Masih ada titik lemah pendekatan diplomasi untuk promosikan Islam. Menurut Anda?
Amerika, tidak hanya Amerika, tapi juga di seluruh dunia, setelah Peristiwa 11/9 itu membuat dialog lintas agama (interfaith dialogue) panjang lebar, berbicara tentang persamaan dan perbedaan antara dua-tiga agama.
Dan itu mungkin para elite saja yang ikut dialog. Tetapi, kalau kita menekankan model people to people diplomacy, lebih kepada interfaith amal daripada interfaith dialogue.
Bayangkan, dalam kelas yang saya bimbing di AS itu mungkin ada lima Yahudi, dua sampai tiga Muslim, mayoritas Kristen, kemudian ada satu Buddha. Di kelas itu kita memang membaca buku akademik mengenai Islam, tapi saya merasa itu kurang cukup.
Jadi, saya mengadakan program amal bersama. Kami kerja sama dengan beberapa organisasi Muslim di Atlanta untuk berbagi makanan kepada tunawisma. Saat mengadakan amal bersama, pasti tanya juga mengenai anak-anak, keluarga, pengalaman dia, dan seterusnya. Kalau kita hanya ke arah interfaith dialogue, itu tidak mungkin. Karena, itu hanya menyentuh kepada rasional.
Tapi, kalau menyentuh kalbu, justru di sana kita bisa mengubah diri sendiri dan makin sadar kalau sebelumnya kita punya prasangka buruk dengan orang lain. Mungkin karena media atau yang lain. Kesadaran itu lebih kuat dan mengubah lewat amal bersama.




