REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diplomasi kultural antarpersonal (people to people cultural diplomacy) merupakan salah satu media tepat untuk mengampanyekan Islam moderat khas Indonesia ke dunia internasional. Menurut guru besar antropologi Universitas Emory, Atlanta US, James B Hoesterey, cara ini dinilai tepat karena lebih menekankan pentingnya persaudaraan dan harmoni.
Sebab, di antara penyebab Islamofobia di Barat adalah ketidakkenalan mereka secara personal terhadap umat Islam. Ia menyebutkan, tak kurang dari 50 persen orang AS belum pernah berjumpa dengan Muslim.
"Ini kesempatan emas untuk program people to people diplomacy," kata peneliti yang pernah mengambil disertasi soal pasang surut popularitas Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar), di sela-sela Konferensi Internasional Southeast Asian Islam: Promoting Moderate Understanding of Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pekan lalu.
Berikut ini perbincangan ROL dengan tokoh yang kini tengah meneliti pendekatan diplomasi dan soft power Kementerian Luar Negeri Indonesia ini:
Diplomacy, Soft Power, and "Moderate Islam" in Indonesia's Foreign Ministry merupakan penelitian Anda yang ketiga tentang Islam di Indonesia. Bisa diceritakan?
Ini menarik. Pertama kali saya datang ke Daarut Tauhid itu pada 2005, empat tahun setelah Peristiwa 11/9, dua tahun setelah AS menyatakan perang kepada Irak. Kemudian saya bisa melihat bagaimana para pejabat di Kementerian Luar Negeri Indonesia pada waktu itu membawa rombongan dari luar negeri, berisi diplomat dan wartawan, untuk menunjukkan Islam yang damai (di Indonesia). Islam yang probisnis, bukan antibisnis.
Kemudian Aa Gym sendiri sering berbicara tentang citra Islam di mata dunia. Itu mulanya saya tertarik. Pejabat- pejabat di Kemenlu pada waktu itu membawa orang supaya mereka bisa melihat Islam yang rahmatan lil alamin di pesantren Aa Gym.
Pada 2010, entah mengapa saya dipilih sebagai peserta program Presidential Friends of Indonesia (PFOI). Kami diundang, mungkin kurang lebih 30 orang dari seluruh dunia.
Satu pekan di Indonesia keliling Jakarta dan Yogyakarta, berjumpa dengan para santri dari Pesantren Darun Najah, Jakarta Selatan. Kemudian pada acara 17 Agustus di Istana, sempat bertemu dengan Dino Patti Djalal, itu satu pekan sebelum beliau pindah ke AS sebagai duta besar.
Satu tahun kemudian, waktu itu saya sedang mengajar di Universitas Michigan, Pak Dino datang di Michigan. Dia memberikan penghargaan kepada Prof Nancy K Florida atas dedikasi beliau mempelajari Indonesia. Di sana, saya berbicara tentang citra Indonesia dan Islam di Amerika, kemudian beliau mengundang saya mampir ke kedutaan di Washington DC.
Beliau mengatakan pada saya, "Kalau di DC, jangan menginap di hotel, di wisma kedutaan saja." Waktu itu saya pikir, wah ini bahasa diplomat saja, tidak mungkin.
Tetapi, ternyata tiga kali saya ke Washington DC selalu diterima dengan baik sekali oleh Pak Dino, bertemu keluarga beliau, dan saya bisa melihat dengan mata sendiri, bagaimana beliau mem-branding Indonesia dan mem-branding Islam di AS. Pada saat itu, AS bisa disebut negara paling Islamophobic.
Menurut Anda, Islam moderat bisa dipromosikan lewat kerja politik dan budaya?
Ya. Ini contohnya, di Washington DC, setelah program Mission for Peace and Understanding, beberapa hari terakhir pada acara Malam Kebudayaan Indonesia (Indonesian Cultural Night) di university club di sana, waktu beliau berpidato, Pak Dino menceritakan budaya Minang.
Dan posisi perempuan dalam budaya Minangkan sangat kuat, apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara lain yang mayoritas Muslim. Dia cerita dengan sentuhan halus, dengan penuh humor, tetapi ada maknanya. Dengan sentuhan itu, dia menceritakan Islam yang dia tahu dari semasa kecil, Islam yang ada di Indonesia.
Jadi, saya tertarik untuk mempelajari, meneliti bagaimana Kementerian Luar Negeri berusaha untuk mempromosikan citra Islam yang ada di Indonesia. Kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, pagi ini, kan tidak mungkin kalau di Arab Saudi ada acara dibuka dengan nasyid, perempuan yang menjadi penyanyi, itu khas Indonesia. Atau mungkin, khas Asia Tenggara.
Jadi, saya sangat tertarik, bagaimana pada zaman Hasan Wirayudha, soft power, strategi pendekatan soft power (itu digunakan). Kalau sekarang memang sudah berubah sedikit, seperti yang dibahas Prof Azyumardi Azra tadi, setelah Hassan Wirajuda, kemudian Marty Natalegawa, terus Bu Retno Marsudi sekarang, mungkin fokusnya sudah sedikit berbeda.
Seberapa efektif pendekatan diplomasi dan soft power ini untuk mempromosikan Islam?
Ini pertanyaan bagus sekali. Kalau diukur dengan Islamofobia di AS misalnya, mungkin belum terlalu efektif.
Tetapi, ada pilihan apa lagi? Walaupun saya sebagai seorang akademisi, melakukan penelitian dan menatap dari perspektif akademik, sebagai bagian dari dunia, sebagai teman, sahabat, atau saudara Indonesia yang mendukung teman-teman di Indonesia dan sangat peduli terhadap masa depan Indonesia, strategi soft power itu bisa menyentuh kalbu seseorang.
Kalau strategi politik biasa, politik ekonomi, itu masih sangat penting, yang namanya riil politics. Tetapi, yang soft power, mungkin ya, karena saya sebagai seorang antropolog, orang antropolog itu pendekatannya sosial. Tidak mungkin bisa melakukan penelitian di Daarut Tauhid kalau saya kasar atau tidak saling menghargai.
Jadi, saya rasa, soft power itu, walaupun ada kekurangan, tidak ada pilihan lain sebenarnya untuk mencapai dunia da mai. Apakah kita memang akan mencapai dunia damai? Ya, saya agak ragu. Pesimis, tapi itu bukan berarti saya tidak mau mencoba, melalui strategi pendekatan soft power daripada hard power Itu yang mampu membuat jembatan antara dua negara, antara beberapa agama, itu aspirasi saya juga sebagai manusia. Bersambung..




