Selasa 23 Jun 2015 14:05 WIB

Muhammadiyah: Persatuan dan Kesatuan Umat Islam tidak Monolit

Rep: c93/ Red: Agung Sasongko
Situs Suci umat Islam, Kabah, tempat menunaikan ibadah haji dan umrah.
Foto: Reuters
Situs Suci umat Islam, Kabah, tempat menunaikan ibadah haji dan umrah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, sebenarnya ajaran Islam itu menganjurkan umatnya untuk bersatu. Itu tak lepas karena setiap orang beriman itu bersaudara.

Persatuan yang harus terjalin adalah dalam rangka menegakkan kalimat Allah SWT. “Innamal mukminuna ikhwah yang artinya setiap orang beriman itu bersaudara. Jadi, kalau orang beriman itu bersaudara, maka harus menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan,” kata dia kepada ROL, Selasa (23/6).

 

Pria kelahiran Sumatera Barat itu melanjutkan, persatuan dan kesatuan itu sendiri bukanlah sesuatu yang monolit. Meski beragam dan beraneka, tetapi semuanya harus bergerak ke arah yang sama, yakni mematuhi kalimat Allah.

 

“Misalkan ada Islam Timur Tengah, ada Islam nusantara, itu menandakan bahwa, ketika ajaran Islam dipahami, dia gak monolit. Tetapi harus tetap sesuai dengan Alquran dan Alhadist,” tambah dia.

 

Pria berusia 60 tahun tersebut menambahkan, pemahaman tentang persatuan dan kesatuan juga jangan lah dipaksakan. Sebab, setiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda, dan itu wajar saja selama tidak menyimpang dari aturan Alquran.

 

“Contoh, orang Minang dan orang Sunda yang mempunyai karakter sendiri-sendiri. Tetapi, orang Minang dengan karakter tersebut tidak mengurangi keislamannya, begitu pun orang Sunda. Jadi jangan ada pemaksaan,” ujar dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement