REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Umat Islam di seluruh dunia akan memulai puasa Ramadhan 1447 H. Boleh jadi waktu mengawali puasa masih akan berbeda baik di Indonesia maupun di dunia Islam. Hal itu sering terjadi, menjadi sesuatu yang biasa.
Masalahnya, jika umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal, kemungkinan besar akan terus terjadi perbedaan untuk penetapan hari-hari besar Islam.
Karena itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta supaya di tengah perbedaan itu umat Islam menyikapinya dengan cerdas dan tasamuh.
“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar, Selasa (17/2/2026).
Perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, ujar Haedar, puasa itu tujuan utamanya untuk meningkatkan takwa, baik penigkatan takwa untuk pribadi maupun kolektif.
Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap Muslim benar-benar menggapai ketakwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama.
Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap, hubungan atau relasi sosial kemasyarakatan juga semakin baik. Menebar lebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta.
Maka berbagai urusan apapun itu jangan sampai mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Oleh karenanya, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat kemuliaannya.
Haedar juga berpesan supaya puasa Ramadhan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadhan.
“Dalam konteks lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.




