REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Umum PP Persatuan Islam (Persis), Irfan Safruddin mengatakan, di tengah berkembang pesatnya Islam dunia, Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbanyak harus menjadi acuan bagi negara-negara lain dalam hal kehidupan beragama. Namun, kata dia, muslim Indonesia sangat rentan dengan pengaruh-pengaruh negatif seperti ideologi radikal.
“Tantangan muslim Indonesia itu jangan sampai terseret dengan pengaruh-pengaruh negatif, kita harus terus memperkuat diri dan mempertahankan sebagai Islam moderat yang toleran,” kata Irfan kepada Republika, Rabu (8/4).
Irfan menyebut, Islam di Indonesia selama ini dikagumi oleh negara Islam lain, termasuk negara Islam di timur tengah. Sebab, Islam di Indonesia punya tiga elemen yang kuat untuk bersinergi membentengi umat dari pengaruh buruk. Tiga elemen itu adalah Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa ormas besar.
“Di negara Islam lain, bahkn di Timur Tengah, mana ada MUI, ormas seperti NU, Muhammadiyah, itu hanya di Indonesia,” ujar Irfan.
Irfan berharap kerjasama dari ketiga elemen tersebut terus mampu menjaga keislaman umat di Indonesia selayaknya Islam yang sebenarnya. Sebab, beberapa aliran radikal yang diberitakan saat ini menurut Irfan hanya sebagian kecil dari keseluruhan Islam di Indonesia.
“Banyak sekali, orang barat yang masuk Islam datang ke Indonesia, dan mereka mengatakan bahwa di Indonesia sangat banyak orang-orang menjalankan Islam yang sebenarnya,” ucapnya.




