REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Tahun ini, majalah tengah bulanan Suara Muhammadiyah genap berusia satu abad atau 100 tahun. usia yang terbilang sangat tua untuk sebuah media massa milik persyarikatan Muhammadiyah.
Suara Muhammadiyah terbit pertama kali pada Januari 1915 atau tiga tahun setelah organisasi Muhammadiyah di dirikan di Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan. Pada awal berdirinya majalah ini bernama Sworo Moehammadijah yang diinisiaatori oleh murid KH Ahmad Dahlan sendiri yaitu Haji Fachrodin.
Pada terbitan pertama majalah ini menggunakan bahasa dan huruf Jawa. Terbitan pertama Sworo Moehammadijah berukuran 13x20 centimeter dengan durasi terbitan belum rutin dan terkadang sebulan sekali.
Majalah milik Muhammadiyah ini menjadi salah satu surat kabar pada jaman itu bersama beberapa majalah lain seperti Sarotomo yang diterbitkan oleh Central Sarikat Islam, Ratna Doemilah milik Wahidin Sudirohusodo dan Medan Moeslimin terbitan SATV.
Menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Pimpinan Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah Haedar Nashir, ditahun tersebut masih sangat jarang sebuah organisasi memiliki media massa sendiri. "Dalam konteks saat itu kesadaran pada sebuah media cetak bagi sebuah organisasi itu sifatnya sebuah lompatan tersendiri," katanya saat ditemui di kantor Suara Muhammadiyah beberapa hari lalu.




