REPUBLIKA.CO.ID, OXFORD -- Kompleks bangunan Pusat Studi Islam Oxford dibangun dengan desain dengan gaya Islam yang cukup kental. Hal ini sempat mengalami penolakan dari kelompok oposisi dan konservatif di Kota Oxford. Namun, dukungan dari internasional dan Pemerintah Inggris, akhirnya pembangunan kompleks baru Pusat Studi Islam Oxford ini kembali dikerjakan pada 2004.
Lokasi pengerjaan kompleks Pusat Studi Islam Oxford yang cukup luas dan perpaduan desain arsitektur yang cukup unik antara Islam dan Gotik Victoria, dinilai proyek di Oxford ini terlalu ambisius. Kuatnya karakter Islam pada model bangunan ini memunculkan sikap permusuhan dari kelompok berpengaruh di Oxford. Namun, tim pembangunan dan Dewan Pengawas Pusat Studi Islam Oxford menegaskan bahwa kompleks ini tidak menjadi pusat kegiatan ibadah di wilayah Oxford.
Brasenose College yang ditugaskan membuat sebuah laporan tentang proyek tersebut mempe ringat kan bahwa kubah dan menara masjid akan berdampak `tidak baik'pada bangunan bersejarah gaya Victoria di Oxford. Komisi Seni Rupa dan Pe ning galan Kerajaan Inggris setuju dengan pen dapat itu bahwa kompleks bangunan itu dianggap terlalu berlebihan. Penolakan ini pun sempat menempuh ranah hukum, hingga akhirnya konflik ini mereda berkat dukungan pendanaan yang kuat dari Keluarga Fahd, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Di sisi lain, Dewan Pengawas Pusat Studi Islam Oxford menekankan kebebasan akademik dalam studi Islam tidak terpengaruh karena ketergantungan pendanaan dari Kerajaan Saudi. Dukungan ini pun semakin kuat setelah proyek pengerjaan kompleks ini mendapatkan dukungan moral dari Prince of Wales, Pangeran Charles.




