Sabtu 21 Jun 2014 11:29 WIB

Ali Farqu Thoha, Dai Senduro, Lumajang Jawa Timur Dakwah dalam Gigitan Puncak Senduro (4)

Mualaf Tengger
Foto: Antara Jatim
Mualaf Tengger

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG -- Berdakwah di Senduro bukan itu saja rintangannya. Alam juga menjadi ujian yang tak kalah beratnya. Pasalnya, medan yang sulit jika tidak hati-hati bisa berbahaya. Suatu malam, sekitar pukul 22.00 Ali pulang dari dusun Gedok ke rumahnya di Lumajang. Dia mengendarai sepeda motor. Karena sepedanya sudah lama, bunyinya seperti kumbang: Ngoongg...ngguungg ngggung. Keras sekali. Apalagi, jika harus melewati tanjakan. Motornya pun sampe terkentut-kentut.

 

Tiba-tiba, dari arah belawanan, ada truk lewat dengan kecepatan penuh. Kebetulan, jalannya sempit dan menanjak. Takut keserempet, motornya diarahkan ke pinggir jalan. Na’as, karena tak seimbang, Ali terjatuh. Dia pun masuk ke jurang. Untung saja tak dalam. Meski taka pa-apa, tapi sekujur tubuhnya seperti remuk.

 

“Sekujur tubuh sakit semua,” tuturnya.

 

Berdakwah di daerah tersebut bukan hal mudah. Selain karena sejumlah rintangan, yang menjadi kendala adalah dana dan jumlah da’i. Parahnya lagi, sangat jarang ada da’i yang rela berdakwah di tempat itu.

 

Ali pun sangat terbantu setelah berkerjasama dengan Warsito, DPD Hidayatullah Lumajang. Berkat kerjasama itu, dakwah di Senduro makin tertata. Jika Ali fokus berdakwah di Senduro, Warsito mencari dana ke sejumlah instansi, terutama Baitul Mal Hidayatullah (BMH), baik di Surabaya maupun Malang . Kini, telah ada seju mlah saran ibadah; 4 masjid dan 10 mushola. 

 

Tak hanya itu, Warsito sendiri sering berdakwah ke Senduro. Dengan motor Suzuki GX tahun 1995 dia naik turun bukit bersama Ali untuk menyemai Islam di sana.

Nikah Masal Hingga Konversi Ternak

Dalam upaya meretas masalah yang ada, sejumlah program telah digulirkan. Mulai dari nikah masal bagi 68 pasangan muallaf suku Tengger. Mereka yang baru masuk islam di nikahkan di Masjid Nurul Huda, Dusun Tempuran, Kec.Senduro, Lumajang. Maka sebanyak 35 penghulupun didatangkan untuk memimpin prosesi ijab Kabul. Program berlanjut dengan khitanan masal untuk para muallaf, persertanya pun beragam usia, dari remaja hingga usia lansia .

Untuk meretas masalah ekonomi, BMH bekerjasama dengan dai-dai setempat melakukan pemberdayaan dibidang pertanian dengan penanaman bibit bawang serta menggulirkan program

Konversi ternak yang diberikan kepada mullaf suku Tengger Senduro Lumajang. Program ini bertujuan untuk mendorong masyarakat mengganti kebiasaan berternak babinya dengan berternak kambing.

Dai serta tokoh Senduro akan hadir dalam acara Inspirasi Dai Tangguh pada 22 Juni 2014 di SMESCO. Semoga kisahnya meninspirasi kita serta berperan untuk turt mendoakan para pembinasuku tengger disekitar lereng gunung Bromo Jawa Timur untuk tetap istiqomah. Semoga ikhtiar menguatkan hidayah yang terus berkesinambungan ini menjadi jalan meraih kemuliaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement