Kamis 01 May 2014 08:10 WIB

Membangun Lini Usaha Masjid (2)

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Chairul Akhmad
Warga melintas dikawasan Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Masjid dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, dan juga berperan membangung ekonomi umat.
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Warga melintas dikawasan Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Masjid dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, dan juga berperan membangung ekonomi umat.

REPUBLIKA.CO.ID, Aksa mengatakan, semua usaha produktif. Bila digabungkan dengan hasil kotak amal Jumat, bisa mencapai surplus Rp 1 miliar.

Tahun lalu, surplus menembus angka Rp 2 miliar setelah ditambah sedekah dari jamaah.

Aksa pun membagi kiat mengelola masjid yang sarat lini bisnis ini. Setiap bidang dalam kepengurusan masjid, ujar dia, diserahkan kepada ahlinya.

Ia mencontohkan, kepala bidang usaha diserahkan kepada Ismed Hasan, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia.

Ismed merangkap jabatan sebagai sekretaris masjid. “Nabi sudah mengatakan, tempatkan orang yang ahli di bidangnya,” kata Aksa menegaskan. Dan, seluruh hasil usaha digunakan untuk membiayai kegiatan masjid.

Alokasinya termasuk untuk membayar gaji imam dan seluruh karyawan masjid. Saat ini, gaji mereka sudah di atas upah minimun regional (UMR) di Jakarta yang besarnya Rp 2,4 juta. Bahkan, mereka memperoleh gaji ke-13 dan 14.

Kelebihan dana yang ada masuk ke dalam pos dana abadi. Aksa menyatakan, dana abadi yang kuat membuat masjid sepenuhnya mandiri. Saat ini, ujar dia, Masjid Agung Sunda Kelapa dapat dikatakan mandiri meski tak sepenuhnya.

Sebab, masih ada sokongan dana dari kotak amal jamaah. Besarnya antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta setiap Jumat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement