Jumat 04 Apr 2014 16:06 WIB

Syekh Ibrahim Musa Parabek, Pejuang Pendidik Umat (1)

Syekh Ibrahim Musa Parabek.
Foto: Thawalib-parabek.sch.id
Syekh Ibrahim Musa Parabek.

Oleh: Mohammad Akbar

Selain aktif memberdayakan pendidikan, Syekh Ibrahim juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan.

Bumi Minangkabau begitu banyak melahirkan ulama besar. Satu di antaranya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek.

Salah satu peninggalannya yang hingga kini masih diwariskan adalah Madrasah Sumatra Tawalib Parabek, Bukittinggi, Sumatra Barat. Inilah tempat mendidik yang telah melahirkan banyak ulama dan kaum cerdik pandai.

Tak heran jika Subhan Afifi menuliskan sosok Syekh Ibrahim Musa Parabek ini sebagai sosok ulama yang menjadi inspirator kebangkitan. “Ulama yang dikenal sebagai ahli hukum Islam, pejuang, sekaligus rujukan bagi ulama lain dan panutan masyarakat Minangkabau,” tulis Subhan dalam buku biografi //Syekh Ibrahim Musa: Inspirator Kebangkitan.

Ibrahim lahir di Desa Parabek, Bukittinggi, pada 12 Syawal 1301 Hijriyah atau 1884 Masehi. Syekh Muhammad Musa bin Abdul Malik al-Qarhawy adalah ayahnya yang juga dikenal sebagai seorang ulama di tanah kelahiran Ibrahim. Sementara, ibunya bernama Ureh.

Melansir informasi dari laman thawalibparabek.tripod.com, Ibrahim telah mendapatkan pengajaran ilmu keagamaan dari ayahnya langsung. Melalui ayahnya, Ibrahim kecil mendapatkan pengetahuan yang bersumber dari Alquran. Saat usianya genap 13 tahun, ia pun khatam Alquran.

Sebagaimana umumnya riwayat para ulama besar di negeri ini, Ibrahim tak hanya belajar dari ayahnya. Tapi, ia menimba ilmu dari banyak guru pada saat usianya masih sangat belia.

Sebelum berangkat ke Tanah Suci pada usia 19, Ibrahim sempat berkelana menimba ilmu ke Surau Tuanku Mato Aia Pakandangan Pariaman. Di tempat ini, ia mendapatkan pengetahuan seputar ilmu nahwu dan sharaf.

Selanjutnya, ia mendalami ilmu fikih ke Tuanku Mato Angin, lalu mengaji ke Ladang Laweh kepada Tuanku Abdul Samad.

Tak terlewatkan juga ia menyelami ilmu dari Syekh Jalaluddin Alkasai di Sungai Landai Banuhampu dan Tuanku Abdul Hamid di Suliki Payakumbuh. Setelah cukup mumpuni, Ibrahim kemudian melakukan proses 'hijrah' ke Makkah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement