Selasa 14 Jan 2014 20:09 WIB

Peringatan Maulid Nabi SAW Momentum Perbaiki Akhlak Politik

Muhammad (Kaligrafi)
Foto: Wikipedia
Muhammad (Kaligrafi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ani Nursalikah

JAKARTA -- Kekuasaan dan harta semakin mengaburkan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Peringatan Maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal atau Selasa (14/1) harus mampu mendorong terjadinya perubahan pada setiap orang, khususnya para pemimpin.

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi awal dari lahirnya perubahan. Perubahan mental yang diusung Nabi merupakan hal utama yang perlu dilakukan bangsa ini. Para pemimpin dan politisi juga harus meneladani etika politik Nabi.

Sayang, kata perubahan yang belakangan diusung semua tokoh politik saat ini masih mengacu sebatas fisik dan material, kata Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Syuhada Bahri, Ahad (12/1).

Syuhada mengimbau para pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini untuk berkonsentrasi pada perubahan mental bangsa dengan menanamkan nilai-nilai agama.

Perubahan mental pasti membawa perubahan fisik, tetapi perubahan fisik tidak selalu membawa perbaikan mental. Perubahan yang dibawa Rasulullah SAW adalah perubahan mental, sedangkan perubahan fisik berjalan setelahnya.

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, politik Nabi adalah politik akhlaqul karimah. Jangan ada politik hitam yang menghina orang.

Nabi SAW juga menghindari nepotisme. Beliau mengangkat seseorang menjadi gubernur atau panglima berdasarkan kompetensinya, ujar Nasaruddin.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam Irfan Safruddin mengingatkan para tokoh politik kembali memikirkan tujuan mereka meraih kekuasaan di tahun politik saat ini.

Kekuasaan dan harta jangan sampai mengaburkan manusia. Kekuasaan hanya cara. Tujuannya yang harus dipegang betul untuk apa, ujar Irfan.

Irfan mengingatkan agar kekuasaan harus digunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Dalam momentum peringatan Maulid Nabi SAW ini, pesan-pesan Nabi Muhammad SAW jangan dijadikan simbol semata. Irfan mengingatkan agar berpolitik harus dijalankan dengan bersih dan memegang nilai-nilai kebaikan.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Welya Savitri mengatakan, para calon pemimpin bangsa harus kembali meneladani Rasulullah SAW yang memiliki sifat sidik, amanah, fathanah, dan tabligh.

Ia prihatin dengan tahun politik yang justru banyak mempertontonkan pemimpin korup di mana-mana dan menimbulkan citra pemimpin amanah susah dicari.

Para politisi, utamanya politisi Muslim, yang akan bertarung di 2014 ini, berilah contoh dengan meniru Rasulullah SAW.

Ada contoh pemimpin yang bagus, tapi masih ada juga yang berada di luar contoh Rasulullah SAW, ujar Welya. Masyarakat yang menjadi pemilih juga jangan tergiur janji politik semata, apalagi sekadar iming-iming uang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement