Rabu 20 Nov 2013 02:22 WIB

Lembaga Pendidikan Quran 'Online' Resmi Diluncurkan

Seorang bocah belajar membaca Alquran (ilustrasi)
Foto: AP PHOTO
Seorang bocah belajar membaca Alquran (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Duta Besar Sudan untuk Indonesia Abdullah Al Rahim Rahim Al Sidiq menghadiri peluncuran sebuah lembaga pendidikan tinggi Al Quran berbasis daring (dalam jaringan komputer) atau "online" bernama Shuffah Al Quran Abdullah bin Mas'ud (SQABM).

Selain Dubes Sudan, acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Natar Lampung Selatan, Selasa, juga dihadiri oleh perwakilan Dubes Palestina dan perwakilan Menteri Agama RI, perwakilan Menteri Kehutanan dan Menkominfo dan perwakilan Gubernur Lampung.

Dubes Sudan Abdullah Al Rahim Al Sidiq dalam kesempatan itu mengatakan bahwa dirinya menyambut baik ada lembaga pendidikan tinggi Alquran berbasis online ini.

Saat ini lanjutnya umat Muslim mengalami kemunduran karena tidak berpegang pada Alquran dan sunah. Karena itu perlu umat Muslim harus kembali meraih kemuliaann kejayaan kembali dengan cara berpegang teguh pada Alquran dan sunah.

Dubes Sudan mengingatkan dalam mempelajari Alquran harus dengan sungguh-sungguh, tidak hanya mengetahui cara membacanya, tetapi juga arti dan maknanya.

Ia mengatakan bahwa Rasul Muhammad SAW adalah saudaranya Alquran, akhlaknya adalah Alquran, dan Nabi Muhammad merupakan Alquran yang berjalan.

Dubes Sudan itu juga mengingatkan bahwa musuh Islam telah mengintai dan dengan berbagai cara agar umat Muslim tidak dapat mempelajari Alquran dan sunah.

Ketua SQABM Yakhsyallah Mansur mengatakan bahwa latar belakang pendirian lembaga ini adalah melihat realita saat ini jutaan Muslim tidak memiliki kesempatan mempelajari Alquran karena berbagai alasan, terutama alasan ekonomi, sosial, dan geografis.

Menurut dia, umat Islam yang hidup di daerah minoritas atau negara berideologi komunisme sulit bagi mereka untuk dapat menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis Islam yang diakui oleh pemerintah setempat.

Ia menjelaskan ada dua keunggulan dalam metode yang ditawarkan lembaga ini, yakni metode "online" dapat memudahkan pengguna, apalagi pihaknya mendapat dukungan penuh dari PT Telkom Indonesia yang menyediakan layanan internet melalui jaringan fiber optik.

Keunggulan lain, metode klasikal akademik, yakni metode khusus bagi mereka yang ingin mendapat gelar sarjana dengan syarat memiliki ijasah SMA atau sederajat dan bersedia mengikuti kuliah dengan total 153 SKS dan setiap semester hafal lima juz.

"Progam unggulan SQABM adalah program menghafal Quran. Mahasiswa diprogramkan menghafal 30 juz dalam waktu tiga sampai empat bulan," ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak Januari 2013 hingga kini, Pelatihan Tahfidzul Quran telah diikuti lebih dari seribu peserta dari Indonesia dan Malaysia dengan para pengajar yang didatangkan langsung dari Gaza Palestina.

"Hasilnya cukup memuaskan lebih dari 50 persen peserta mampu memenuhi target menghafal Alquran," terangnya.

Metode ini lanjutnya, telah dipraktikkan di Ma'had Darul Quran wa Sunnah Gaza Palestina. Setiap tahunnya, lembaga ini mewisuda ribuan santrinya yang telah hafal 30 juz Alquran.

Ia mengatakan bagi mahasiswa yang sudah hafal 30 juz Alquran bisa mendapatkan gelar sarjana dalam tiga tahun.

"Harapan dibentuknya SQABM agar dapat mengentaskan muslimin dari buta huruf Alquran," ujarnya.

Selain itu, untuk membangun peradaban umat manusia berdasarkan Alquran sebagaimana tugas utama Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.

Dosen-dosen pengajar SQABM, menurut dia, para dosen Alquran yang kompeten di bidangnya. Mereka berasal dari beberapa negara seperti Sudan, Yaman, Malaysia, dan Indonesia.

Program pengajaran SQABM tersedia dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Arab. Para mahasiswa juga mendapatkan mata kuliah lain seperti tafsir, tarikh (sejarah), dan lughoh (bahasa).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement