Senin 01 Oct 2012 11:13 WIB

Tuntunan Islam dalam Mengobati Demam (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Seorang anak terserang demam (ilustrasi).
Foto: wordpress.com
Seorang anak terserang demam (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Temuat di dalam Ash-Shahain, dari nafi’, dari Umar, bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya demam atau demam yang sangat adalah sebagian dari aroma neraka jahannam; maka dinginkanlah ia dengan air.”

Hadis ini menimbulkan banyak masalah bagi dokter yang kurang memahami khazanah keilmuan Islam. Mereka memandangnya sebagai peniadaan pengobatan bagi penyakit demam dan pencegahannya.

Seruan Nabi SAW ada dua macam, yang umum bagi penduduk bumi dan yang khusus bagi sebagian mereka. Yang pertama misalnya seruan beliau pada umumnya.

Dan yang kedua seperti ucapan beliau, “Janganlah kamu menghadap kiblat dengan tahi dan air kencing. Dan jangan pula kamu membelakanginya; akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.”

Ini bukanlah seruan kepada penduduk timur atau penduduk barat, juga bukan penduduk Irak. Tetapi ia adalah seruan kepada pendudukk Madinah dan kawasan yang serupa dengannya seperti Suriah dan yang  lain. Juga ucapan beliau, “Apa yang ada diantara  timur dan barat adalah kiblat.”

Apabila yang demikian diketahui, maka seruan beliau didalam hadis ini adalah khusus bagi penduduk Hijaz dan siapa yang ada di sekitar mereka, sebab kebanyakan demam yang menyerang mereka dari jenis demam matahari dan aksidental yang terjadi karena terik sinar matahari.

Ini dapat diatasi dengan air yang dingin, baik minum ataupun mandi. Sebab demam adalah panas aneh yang menyala di dalam hati dan tersebar darinya melalui roh dan darah di dalam urat nadi dan pembuluh darah ke seluruh tubuh. Sehingga ia menyala di dalamnya dengan nyala yang membahayakan perbuatan-perbuatan yang alamiah.

Demam terbagi menjadi dua bagian, demam aksidental yang terjadi karena humor, gerakan tubuh, sengatan terik matahari, sengatan panas yang amat sangat atau yang serupa dengan itu. Dan demam penyakit, yang terbagi menjadi tiga macam. Ia tidak berada kecuali pada materi yang pertama, kemudian darinya seluruh tubuh menjadi panas.

sumber : Kitab Thibb An-Nabawi, oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement