REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald J Trump tak bisa lagi membohongi publik bahwa ekonomi AS akan baik-baik saja di tengah perang dengan Iran. Maskapai bertarif rendah asal Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi mulai menghentikan operasional dan membatalkan seluruh penerbangannya setelah pembicaraan dengan pemerintahan Trump untuk mengamankan dana talangan senilai 500 juta dolar AS menemui jalan buntu.
Para pakar menilai lonjakan harga bahan bakar penerbangan akibat perang AS-Israel melawan Iran menjadi pukulan terakhir bagi maskapai perintis model biaya rendah (ultralow-cost) tersebut. Penutupan operasional Spirit setelah 34 tahun berkiprah ini menyebabkan sekitar 17.000 staf kehilangan pekerjaan, banyak penumpang telantar, serta memicu keraguan atas masa depan industri penerbangan murah, lapor Al Jazeera.
Pernyataan resmi Spirit Airlines pda Sabtu (2/5), Spirit Aviation Holdings selaku perusahaan induk menyatakan telah memulai proses penghentian operasional secara tertib. "Seluruh penerbangan Spirit telah dibatalkan. Kami mengimbau para tamu Spirit untuk tidak datang ke bandara," tulis perusahaan dalam pernyataan resminya.
Pihak maskapai menambahkan, meski berbagai upaya telah dilakukan, kenaikan harga minyak yang signifikan dan tekanan bisnis lainnya telah berdampak drastis terhadap prospek keuangan perusahaan. Berdasarkan data firma analitik penerbangan Cirium, Spirit sedianya memiliki jadwal 4.119 penerbangan domestik dengan kapasitas lebih dari 800 ribu kursi pada periode awal Mei ini.
Spirit Airlines sebenarnya telah mengalami kesulitan finansial selama bertahun-tahun. Maskapai ini tercatat telah mengajukan permohonan pailit sebanyak dua kali, yakni pada November 2024 dan Agustus 2025, akibat kerugian yang terus membengkak, utang yang tinggi, serta persaingan ketat.
Meskipun sempat mencapai kesepakatan dengan kreditur untuk keluar dari status kepailitan, pecahnya perang dengan Iran menjadi hambatan besar. Biaya bahan bakar turbin penerbangan (ATF) melonjak hingga 4,51 dolar AS per galon pada akhir April, jauh melampaui asumsi rencana restrukturisasi perusahaan yang hanya mematok angka sekitar 2 dolar AS.




