Sabtu 08 Sep 2012 18:01 WIB

Kajian Sufisme: Teori-Teori Sufisme (5)

Ilustrasi
Foto: trekearth.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Tetapi perkenalan dengan kaum Sufi, apalagi di hampir setiap tingkat mana saja dari akses pada kebiasaan-kebiasaan praktis dan tradisi lisan mereka, telah dapat dengan mudah memecahkan kontradiksi tidak murni, antara eksistensi sebuah kata dan ketiadaan derivasi etimologis.

Jawabannya adalah, kaum Sufi menganggap bunyi dari huruf-huruf S, U, F (dalam huruf Arab Shad, Wau, Fa) dengan cara penggunaan yang sama, memiliki pengaruh signifikan pada mentalitas manusia. Oleh karena itu, kaum Sufi adalah ‘Orang-orang SUF’.

Setelah menyelesaikan teka-teki permainan kata-kata tersebut (secara insidental mengilustrasikan kesulitan untuk mendapatkan pegangan dengan gagasan-gagasan Sufi, apabila seseorang hanya berpikir pada garis pemikiran tertentu), kita segera melihat suatu problem yang baru dan karakteristik muncul menggantikannya.

Pemikir kontemporer mungkin sekali tertarik dengan penjelasan ini—gagasan bahwa suara atau bunyi memengaruhi otak—hanya dalam batasan-batasan yang ditentukannya sendiri. Ia mungkin menerimana sebagai kemungkinan teoritis, sejauh yang diungkapkan kepadanya dalam istilah yang dianggap dapat diterima di era komunikasi ini.

Jika kita mengatakan, suara berpengaruh terhadap manusia, memungkinkannya sesuatu yang lain menjadi setara baginya untuk memiliki pengalaman di luar kewajaran, ia secara persuasif mungkin bersikeras, bahwa "Ini merupakan okultisme (kegaiban) semata, omong kosong primitif dari aliran Om-Mani-Padme-Hum, Abrakadabra dan sebagainya."

Tetapi (mengingat penjelasan itu tidak obyektif, melainkan semata-mata aspek umum sebagai pemikiran yang bisa diterima), kita dapat menjawabnya, “Otak manusia, sebagaimana anda tahu pasti, mungkin bisa disamakan dengan sebuah komputer.”

“Tanggapan atau reaksinya terhadap pengaruh yang kuat atas vibrasi dari penglihatan, suara (bunyi), sentuhan dan sebagainya, sudah ditentukan sebelumnya atau 'diprogram'. Begitu pula kira-kira terhadap suara yang dihasilkan dari lafal S, U, F, menimbulkan reaksi pada otak yang mungkin sudah terprogram.”

Ia mungkin dapat menerima dengan baik atas penyederhanaan yang kurang bagus ini dalam pola pikirnya yang sudah ada.

sumber : Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat oleh Idries Shah/Media Isnet
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement