Rabu 05 Sep 2012 22:03 WIB

Frithjof Schuon, Terpikat pada Filsafat Islam (5)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad
Frithjof Schuon
Foto: frithjofschuon.com
Frithjof Schuon

REPUBLIKA.CO.ID, Intelektual lebih tinggi dari rasio. Karena, jika rasio itu menyimpulkan sesuatu berdasarkan kepada data, mental berfungsi karena eksistensi intelektual. Rasio hanyalah media untuk menunjukkan jalan kepada orang buta, bukan untuk melihat.

Sedangkan intelektual, dengan bantuan rasio, bisa mengungkapkan sesuatu dengan sendirinya secara pasti. Selain itu, intelektual dapat menggunakan rasio untuk mendukung aktualisasinya.

Di dunia fisik, intelektual terbagi menjadi pikiran dan badan. Di alam langit yang menjadi model dasar atau di dalam ide Plato, pikiran dan badan merupakan makna yang tidak dibedakan.

Manusia memahami kebenaran melalui intuisi. Sebagai sebuah daya, intelektual adalah dasar bagi intuisi. Intuisi membedakan antara yang riil dan ilusi, antara wujud yang wajib dan wujud yang mungkin. Implikasinya, ada realitas transenden di luar dunia bentuk.

Dengan intelektual, manusia mengetahui bahwa realitas dapat dibagi menjadi dua: absolut dan relatif, riil dan ilusi, yang harus dan mungkin, yang esoteris dan eksoteris. Menurut Schuon, agama-agama bertemu pada level yang esoteris, bukan eksoteris.

Eksoterisme dan Esoterisme

Schuon menjelaskan, eksoteris adalah aspek eksternal, formal, hukum, dogmatis, ritual, etika, dan moral sebuah agama. Eksoteris berada sepenuhnya di dalam maya, kosmos yang tercipta.

Dalam pandangan eksoteris, Tuhan dipersepsikan sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum, bukan Tuhan sebagai esensi karena eksoterisme berada di dalam maya, yang relatif dalam hubungannya dengan Atma. Pandangan eksoteris bermakna pandangan yang eksklusif, absolut, dan total, sekalipun dari sudut pandang intelektual adalah relatif.

Pandangan eksoteris, menurutnya, bukan saja benar dan sah, bahkan juga keharusan mutlak bagi keselamatan individu. Bagaimanapun, kebenaran eksoteris adalah relatif.  Inti dari eksoteris adalah ‘kepercayaan’ kepada huruf—sebuah dogma esklusifistik (formalistik)—dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral.

Selain itu, eksoterisme tidak pernah akan melampaui individu. Eksoterisme bukan muncul dari esoterisme, namun muncul dari Tuhan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement