REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir semua manusia mengharapkan kehidupan yang mudah dan berlimpah, atau kehidupan yang penuh kelapangan dalam harta dan lainnya.
Namun, menurut Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, kehidupan yang penuh kelapangan itu justru mudah dimasuki atau diintervensi nafsu. Karena itu, seseorang harus lebih berhati-hati.
“Nafsu akan mengambil peranan dalam sebuah kondisi yang lapang, yaitu dengan kebahagiaan. Tetapi nafsu tidak memiliki peranan dalam keadaan yang sempit.” (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam)
Biasanya, ketika seseorang mendapatkan kelapangan, baik harta maupun nikmat lainnya, ia merasa senang dan bahagia. Jika tidak berhati-hati, kondisi inilah yang menjadi jalan masuknya nafsu.
Pada saat itu, ia bisa meremehkan orang-orang yang berada di bawahnya, baik dalam hal harta maupun kebahagiaan, atau meremehkan orang yang sedang menderita. Sikap tersebut merupakan bentuk etika yang buruk terhadap sesama makhluk.




