REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN - Poster berisi kampanye anti-kelompok garis keras yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri Jerman memicu protes keras dari komunitas Muslim. Mereka menganggap kampanye itu hanya menambah masalah baru dan menghilangkan tujuan awal dari kampanye.
Dalam poster itu terdapat tulisan "Telah Hilang", dibawahnya terapa ilustrasi seorang pemuda. Lalu ada tulisan berbunyi "Ini adalah anak kami Ahmad. Kami merindukannya, karena kami tidak mengenalinya lagi. Ia menjadi lebih, lebih dan lebih radikal karena fanatisme agama dan kelompok militan. Jika anda memiliki pengalaman seperti saya, hubungi pusat konseling."
Empat organisasi Muslim seperti Uni Islam Turki (DITIB), Asosiasi Pusat Budaya Islam (VIKZ), Dewan Pusat Muslim Jerman (ZMD) dan Komunitas Islam Bosnia di Jerman (IGBD) dalam pernyataan bersama mengatakan kontekstualisasi poster hanya menimbulkan persepsi yang keliru. Efeknya hanya menyudutkan komunitas Muslim.
"Kementerian seharusnya bijak dalam melangkah," demikian bunyi pernyataan bersama empat organisasi tersebut seperti dikuti thelocal.de, Jumat (31/8).
Secara terpisah, Dewan Islam Jerman menilai poster itu hanya memperkuat islamofobia. Sebabnya, Dewan meminta kementerian untuk memilih konten yang menghargai kohesi dari masyarakat Jerman.
Anggota Partai Hijau Jerman, Arif Unal mengatakan kementerian dalam negeri melakukan kesalahan besar hanya terfokus pada konsep terorisme. Seharusnya, kementerian perlu mengambil langkah-langkah solid untuk memerangi rasisme.
"Ini salah kaprah, anda seharusnya melindungi pemuda berusia 15-17 tahun, karena pada usia ini mereka cenderung pemalu. Bukan sebaliknya, membuat mereka ditakuti," kata dia
Presiden Dewan Gereja Evangelis (EKD), Nikolaus Schneider, mengatakan Islam dan Muslim datang ke Jerman, lalu menjadi milik Jerman. Perlu diperhatikan, umat Islam Jerman hanya dapat mengembangkan kekuatan budaya dan sosial dalam tingkat yang sangat terbatas.




