Rabu 25 Jul 2012 21:38 WIB

Zaid bin Haritsah, Sang Pencinta Rasulullah (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Ilustrasi
Foto: tripwiremagazine.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW berdiri melepas balatentara Islam yang akan berangkat menuju medan Muktah, melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan.

Dalam titahnya beliau bersabda, “Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah bin Rawahah.”

Siapakah Zaid bin Haritsah itu? Bagaimanakah orangnya? Siapakah pribadi yang bergelar Pencinta Rasulullah Itu?

Tampang dan perawakannya biasa saja. Pendek dengan kulit cokelat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh para ahli sejarah. Namun, riwayat hidupnya luar biasa hebat.

Sudah lama sekali Su’da, istri Haritsah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatannya.

Pada suatu pagi yang cerah, suaminya mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah.

Saat Haritsah akan menitipkan istri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan istrinya, dan ia harus menunaikan tugasnya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, disertai perasaan aneh yang menyuruhnya agar turut serta mendampingi anak dan istrinya.

Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putra dan istrinya.

Demikianlah, Haritsah melepas istri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tidak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama rombongan kafilah.

sumber : 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement