Rabu 13 Jun 2012 23:33 WIB

Bi At-Ta'bir Ar-Ru'ya, Arti Sebuah Mimpi (4-habis)

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Chairul Akhmad
Kitab (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Kitab (ilustrasi).

Penakwil mimpi andal

Dalam sejarah Islam, Ibnu Sirin adalah salah satu penakwil mimpi andal. Kepakaran Sirin dalam bidang ini juga diakui dan mendapat apresiasi dari para cendekiawan atau intelektual Muslim di era klasik.

Sebut saja, Ibnu Qutaibah Ad-Dainuri dan Ibnu Khaldun. Tokoh yang terakhir ini bahkan mengomentari secara khusus kitab Ibnu Sirin dalam karya monumentalnya, Muqaddimah.

Dalam pandangan Ibnu Qutaibah, tak semua orang dianugerahi talenta dan kemampuan membaca pesan di balik mimpi. Ibnu Sirin terbukti mampu menunjukkan kompetensinya di bidang ini.

Karena itu, kata Ibnu Nadim dalam Al-Fihrits, Kitab Ta’bir Ar Ru’ya dicetak berulang-ulang di belahan dunia Arab dan kawasan lainnya. Terutama setelah dicetak pertama kalinya di Bulaq, Mesir, pada 1284 H dan di Bombay pada 1296 H.

Pengakuan atas kepakaran Ibnu Sirin pun datang dari rivalnya, Hasan Al-Bashri. Konon, di antara kedua tokoh tersebut terdapat benih sentimen dan rasa ketidaksukaan. Bahkan, dikisahkan mereka sampai tak bertegur sapa.

Kesaksian atas kemahiran Ibnu Sirin menafsirkan mimpi muncul, tatkala suatu saat, Hasan Al-Bashri yang dikenal sebagai tokoh sufi itu bermimpi. Dalam mimpinya itu, seolah-olah ia sedang telanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu.

Malu bertanya secara langsung, ia pun lantas meminta sahabatnya menceritakan mimpi itu kepada Ibnu Sirin, sekaligus diminta menafsirkannya. Permintaan tersebut ditolak. Ibnu Sirin meminta agar Hasan menemuinya secara langsung.

Singkat kata, mimpi sang tokoh pun ditafsirkan oleh Ibnu Sirin. Telanjang dalam mimpinya diartikan ketelanjangan dunia berkat sifat zuhud Hasan, kandang ditakwilkan lambang dunia yang fana, dan sebatang tongkat berarti simbol hikmah yang kerap disampaikan oleh Hasan serta berdampak positif bagi banyak kalangan. Sesaat Hasan Al-Bashri terkesima. Ia pun kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli tafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement