Jumat 27 Sep 2013 11:01 WIB

Menelusuri Kebesaran Arsitektur Islam

Menara Masjid Umayyah Damaskus, Suriah.
Foto: anthrocivitas.net
Menara Masjid Umayyah Damaskus, Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan,” hadis riwayat Muslim. Arsitektur termasuk dalam salah satu jenis seni. Seperti seni lainnya, disebutkan Encyclopaedia Britannica, praktik arsitektur meliputi estetika dan manfaat akhir. Keduanya dapat dibedakan tetapi tidak dipisahkan serta memiliki kapasitas berbeda di setiap kerja.

Dalam budaya sederhana telah berkembang karakteristik bentuk arsitektur. Masyarakat yang lebih kompleks pun membangkitkan berbagai macam gaya, teknik, dan tujuan yang membentuk bangunan mereka. “Arsitektur terutama adalah hasil dari faktor-faktor sosiobudaya, merupakan seni yang menuntut banyak penalaran daripada ilham, dan lebih banyak pengetahuan faktual daripada semangat,” kata James C Snyder dan Anthony J Catanese dalam Pengantar Arsitektur.

Lalu, bagaimana dengan arsitektur Islam? Banyak pendapat yang menyatakan arsitektur Islam berarti arsitektur yang bernapaskan Islam. Dengan kata lain, arsitektur tersebut tidak memiliki unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat. Namun, bagaimana perkembangan arsitektur itu sendiri di dunia Islam? Di tempat kelahiran Islam, tanah Arab, seni arsitektur nyaris tak pernah digalakkan.

Philip K Hitti dalam History of the Arabs menuturkan, jika memang arsitektur itu ada di dunia Arab maka itu hanyalah dapat ditemui di Yaman. Itu pun sangat miskin arsitektur dengan bangunan yang menggunakan batu bata sebagai dinding, kayu pohon kurma, dan tanah liat sebagai atap, sangat sederhana tanpa hiasan.

Di Arab Utara memang ditemui arsitektur yang indah dari era kuno, di antaranya, Petra di Yordania dan Palmyra di Suriah. Namun, menurut Hitti, itu bukanlah arsitektur asli Arab melainkan adopsi dari Mesir dan Suriah-Yunani.

Masjid-masjid pada era awal pun hanya sekadar lahan terbuka yang dikelilingi dinding dengan mimbar berupa pohon yang kemudian diganti dengan kayu seperti podium yang bertangga tiga. Kemudian masjid berkembang dengan didirikan di atas lahan tersebut sebuah bangunan. Hal tersebut dapat dilihat dari bangunan asli masjid pertama Muslimin, Masjid Quba dan Masjid Nabawi di Madinah.

Ketika dakwah Islam menyebar dan Muslimin membuka banyak wilayah maka masjid mulai banyak didirikan. Inilah era perkembangan arsitektur Islam dimulai. Disebutkan oleh Rom Landau dalam Islam and The Arabs, beberapa masjid yang berdiri seiring perkembangan Islam, yakni abad ke-7 Dome of the Rock (Jerusalem), Abad ke-8 Masjid Uqba bin Nafi (Kairouan) dan Umayyad (Damaskus), abad ke-9 Masjid Ibnu Tulun (Kairo), Abad ke-12 Giralda (Seville) dan Kutubia (Marrakesh), erta abad ke-17 Masjid Sultan Ahmad (Istanbul).

Era Umayyah

Arsitektur di dunia Islam baru benar-benar digalakkan ketika masa Bani Umayyah. Banyak inovasi arsitektur yang dilakukan di era tersebut. Antara lain, mihrab dan menara. Mihrab selalu menjadi bagian utama dalam dekorasi masjid hingga kini. Khalifah Umayyah, Al Walid dipandang sebagai orang pertama yang memperkenalkan struktur mihrab. Masjid Madinah merupakan masjid pertama yang memiliki mihrab. “Struktur tersebut kemudian segera menjadi karakteristik umum di semua masjid,” ujar Hitti.

Menara juga diperkenalkan pada masa Dinasti Umayyah. Menurut Hitti, Suriah menjadi tempat kelahiran menara masjid. Di sana, menara mengambil bentuk menara jam seperempat atau menara gereja yang berbentuk persegi empat. Lagi-lagi, Khalifah Al Walid yang dianggap sebagai pembangun banyak menara di Suriah dan Hijaz. Sang khalifah memang terkenal banyak membangun. Bahkan, disebutkan sang khalifah merupakan seorang arsitek.

Namun, meski menara Masjid Suriah menjadi yang tertua dan prototipe menara lain di dunia Islam, terutama Afrika Utara dan Spanyol, menara tersebut bukanlah satu-satunya jenis menara yang dikembangkan di dunia Islam. Menara-menara masjid mengikuti banyak bentuk tradisional di setiap wilayah kekuasaan Islam. Di Irak, misalnya, gaya menara masjidnya mengadopsi gaya Asysyiria Kuno.

Sejak masa Kekhalifahan Umayyah inilah arsitektur kemudian terus berkembang. Inilah era pemicu perkembangan arsitektur Islam yang kemudian mengalami kemajuan yang pesat. Hampir semua karya arsitektur Islam pada tiap masa merupakan bangunan masjid. Sebagai seni paling awal dan permanen meskipun untuk tujuan keagamaan, kata Hitti, arsitektur selalu menjadi representasi utama seni bangunan. “Jadi, ditemukan dalam sebuah masjid representasi sejarah perkembangan peradaban Islam,” ujar Hitti.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement