Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Tren Religiositas Masyarakat Jakarta Meningkat

Jumat 21 Jun 2019 16:36 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Hasanul Rizqa

Sejumlah umat islam saat melaksanakan shalat Maghrib saat acara Dzikir Nasional di Masjid Agung At Tin, jakarta, Senin (31/12).

Sejumlah umat islam saat melaksanakan shalat Maghrib saat acara Dzikir Nasional di Masjid Agung At Tin, jakarta, Senin (31/12).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Tingkat religiositas di Jakarta terbilang sangat tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingkat keislaman masyarakat Jakarta cenderung meningkat. Indikatornya ada pada survei yang dilakukan Alvara Research Center pada 2017 lalu.

Survei tentang potret keberagaman Muslim Indonesia itu menghasilkan, sebanyak 95 persen Muslim di Tanah Air memandang penting peran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga

Pendiri Alvara Research Center Hasanuddin Ali menyebutkan, penelitian itu dilakukan terhadap 1.200 responden Muslim di enam kota besar. Kota-kota tersebut, yakni Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, serta Makassar.

Menurut dia, tingkat religiositas di Jakarta sangat tinggi. "Jakarta sendiri sebagai respons dari kehidupan yang sangat materialistis, jadi mereka mencari sumbersumber keagamaan yang mampu memperkuat keimanan mereka sebagai benteng dari kehedonan," jelasnya.

Di enam kota tersebut, Hasanuddin mengungkapkan, banyak kelompok kajian hadir. Indikasi lainnya, yakni tren berhijab semakin tinggi. "Lalu fenomena masyarakat Muslim yang memperdalam kelimuan keagamaan serta kajian banyak muncul di perumahan kelas atas. Kemudian, semua simbol-simbol keagamaan tiba-tiba muncul di ruang publik," tambah dia.

Dia menambahkan, kelompok masyarakat kelas menengah dan terdidik merasa haus ilmu agama. Ada semacam "balas dendam" karena saat kecil atau remaja mereka tidak berilmu agama tinggi.

Ketika bekerja, mereka pun mulai bergairah untuk mencari kajian keagamaan. Namun, Hasanuddin menegaskan, masyarakat yang tengah bersemangat harus menyadari kalau belajar Islam tidak bisa instan. Rencananya, kata dia, Alvara Research Center akan kembali melakukan survei serupa pada Juli atau Agustus mendatang.

"Saya melihat karena mereka punya semangat agama tinggi, jadi sering melakukan jalan pintas. Mereka memilih belajar dan menerima ilmu agama secara instan sehingga mereka lebih konservatif. Ini perlu kita cermati kalau belajar agama tidak bisa instan, perlu ada ustaz pembimbing yang mum puni dan bisa dipertanggungjawabkan," tutur Hasanuddin.

sumber : Dialog Jumat Republika
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA