Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Pendeta Belanda Puji Kehidupan Beragama Indonesia

Kamis 18 Apr 2019 23:23 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Foto: Republika/Mardiah
Pendeta Belanda menilai Indonesia kaya nilai lokal dalam toleransi.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Protestant Church in The Netherlands, Pendeta R de Reuver akhir pekan lalu. Pendeta Protestan asal Belanda tersebut mengagumi kehidupan beragama di Indonesia.

Pendeta Reuver mengatakan, kehidupan beragama di Indonesia sAngat berbeda setelah mengetahuinya. Selama ini masyarakat Belanda menganggap bahwa Muslim di Indonesia tidak jauh berbeda dengan Muslim di dunia lainnya. Muslim Indonesia diduga sangat tertutup dan jarang mau bergaul secara luas dengan warga non-Muslim.

Baca Juga

Ketika terjadi kasus Ahok, Pendeta Reuver menyampaikan, orang di Belanda menganggap umat minoritas di Indonesia ditindas oleh umat mayoritas. Namun ternyata anggapan tersebut salah. 

"Kasus Ahok tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan beragama di Indonesia dan bahkan tidak menciderai kerukunan umat beragama yang sudah terbangun selama ini," kata Pendeta Reuver melalui keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (18/4). 

Pendeta Reuver menyadari analisa mereka di Belanda tentang konteks beragama di Indonesia sangat minim. Indonesia dalam keberagamaan mampu hidup bersama. Umat beragama di Indonesia sering berdiskusi bersama dan berdoa bersama untuk keselamatan umat dan bangsa ini.

Pendeta Reuver berjanji akan menjelaskan apa yang diketahuinya tentang Indonesia kepada pemerintah Belanda dan warga non-Muslim di sana. Dia juga menanyakan tentang pandangan agama dalam menyikapi bencana alam di Indonesia.  

Sekretaris FKUB Sulawesi Tengah, Muhtadin Dg Mustafa menjawab pertanyaan tersebut. Dia menjelaskan, dalam pandangan agama Islam, bencana-bencana terjadi tidak selamanya disebabkan oleh kemarahan Tuhan.  

"Tetapi lebih pada ulah manusia yang secara terus menerus mengekploitasi alam hingga diluar batas kewajaran, manusia harus menyadari bahwa ia ditugaskan ke bumi dengan mengemban misi untuk menjaga dan memakmurkan bumi ini dan bukan sebaliknya," ujarnya.  

Ketua FKUB Provinsi Sulawesi Tengah, Zainal Abidin mengatakan, kehidupan umat beragama di Indonesia dikenal sangat rukun dan harmonis meski terdapat enam agama. Indonesia meski bukan negara agama, melainkan masyarakatnya beragama dalam naungan Negara Pancasila yang sangat mengayomi dan memperhatikan umat beragama karena dijamin oleh UUD 1945.

Zainal yang juga Ketua Umum MUI Kota Palu menjelaskan, manusia hanyalah murid di hadapan Tuhan dan murid tidak boleh saling mengisi rapor. "Kita umat beragama hanyalah hamba-Nya dan sesama hamba tidak boleh saling menyalahkan, karena hanya Tuhan pemilik kebenaran sejati," ujarnya.

 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA