Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Masjid Agadez Kearifan dari Masa Lalu

Ahad 26 May 2019 21:41 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Masjid Agadez

Masjid Agadez

Foto: Screen Capture Youtube
Hampir semua bangunan terbuat dari bahan lokal dan menyatu dengan warna tanah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hampir semua bangunan terbuat dari bahan lokal dan menyatu dengan warna tanah. Agadez adalah kota kecil di pinggiran Gurun Sahara sekitar wilayah uta ra Niger. Kota ini sudah ada sejak abad ke- 15 ketika sebuah keraja an di sana berdiri memajukan masyarakat setempat. Di sanalah perekonomian berkembang karena masyarakat dari berbagai wilayah Sahara bertemu.

Kota ini merupakan gerbang penting ke gurun di Niger utara yang meng hubung kan Agadez dengan Aljazair dan pan tai Mediterania. Situs warisan dunia di sana mencakup area tempat tinggal pri badi, masjid kuno, dan bangunan megah yang dibangun dengan bebatuan dan lumpur tradisional.

Strukturnya yang paling ikonik adalah menara piramida setinggi 27 meter yang dikenal sebagai Masjid Agung. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai menara tertinggi yang pernah dibangun seluruhnya dari bata-lumpur. Bentuknya seperti mercusuar di atas gurun yang menaiki struktur batu bata tertinggi.

Inilah menara Masjid Agadez, tingginya 27 meter. Selama berabad-abad, bangunan ini te lah berfungsi untuk me waspadai musuh dan mengundang karavan ke kota metropolis Tuareg- Agadez. Struktur bangunan Konstruksinya terbuat dari bahan seperti kayu, perekat dari tanah liat. Tidak ada cukup kayu atau bahan lain untuk membuat batu bata yang tepat.

Namun demikian, ada solusi untuk setiap masalah bangunan di kota Gurun Sahara. Masyarakat di sana membuat bahan bangunan dari lumpur, jerami, dan kerikil. Campuran ini dikeringkan di bawah sinar matahari dan menjadi bahan yang keras lagi padat.

Bangunan yang terbuat dari bahan ini membutuhkan perawatan karena angin dan hujan sesekali meruntuhkan temboknya. Menara yang lebih tinggi di tempat lain akan membutuhkan perbaikan. Tetapi, orang-orang Tuareg (masyarakat setempat) telah memecahkan masalah ini dengan cemerlang. Menara itu sendiri berisi balok kayu mencuat dari dinding menara masjid.

Masjid Agadez adalah tempat suci. Dibangun pada 1515, ketika kota direbut oleh Kekaisaran Songhai. Tuareg, kabarnya, pergi ke Timbuktu untuk mempelajari teknik konstruksi dan baru kemu dian membangun gedung yang luar biasa ini. Masjid dipulihkan dan sebagian dibangun kembali pada 1844. Sekarang, bangunan ini lebih mendominasi di kota gurun ini.

Agadez adalah kota yang dikelilingi tembok pelindung. Masjid adalah simbol Agadez dan juga merupakan simbol Niger di sebelah utara. Wisatawan diizinkan untuk me manjat menara, tetapi harus memiliki badan yang ramping dan bugar. Pemandangan dari atas menara sangat menakjubkan karena menampakkan kota Agadez yang sangat luar biasa. Hampir semua ba ngun an terbuat dari bahan lokal dan menyatu dengan warna tanah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA