Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Jejak Sejarah Perpustakaan di Duna Islam

Rabu 15 May 2019 02:50 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Kegemaran Muslim belajar melahirkan kebiasaan membaca dan melestarikan buku.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kegemaran Muslim belajar melahirkan kebiasaan membaca dan melestarikan buku. Aktivitas menakjubkan ini telah membawa umat Islam membangun peradaban tinggi dan menjadi acuan. Hal tersebut juga memicu berdirinya perpustakaan sarat dengan buku-buku berkualitas.

Kondisi yang sekarang berbeda mestinya membuat umat Islam tergerak bekerja keras untuk meraih kembali kemajuan, termasuk mendirikan perpustakaan yang menjadi pusat ilmu dan kemajuan umat Islam. Menurut Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, ajaran Alquran merupakan cikal bakal berkembangnya tradisi ilmiah juga perpustakaan.

Alquran dengan perintahnya “bacalah” adalah dasar untuk menghasilkan pengetahuan dan literatur, sekaligus merangsang tumbuhnya koleksi-koleksi buku dalam hal ini perpustakaan yang tertata baik. Koleksi buku dalam perpustakaan pertama muncul pada periode pemerintahan Dinasti Umayyah.

Apalagi, beberapa penguasa dikenal gandrung pada buku. Pangeran Khalid bin Yazid, misalnya, adalah seorang sastrawan dan kolektor buku. Pada masa awal, koleksi buku ada di perpustakaan masjid dan perorangan, lalu perpustakaan kekhalifahan, lembaga pendidikan, dan perpustakaan umum.

Keberadaan perpustakaan berkembang lebih jauh pada era Dinasti Abbasiyah. Khalifah Abbasiyah kedua, al-Manshur, membuat biro terjemahan yang menjadi awal bagi terwujudnya perpustakaan besar, Bait al-Hikmah, pada pemerintahan al-Ma’mun. Tak heran bila lembaga ini menjadi sentral bagi pengetahuan di dunia Islam.

Penguasa Muslim lain, al-Hakim, mendirikan perpustakaan serupa, yaitu Dar al-Ilm Fathimiyah di Kairo. Di Cor doba, Spanyol, keturunan Umayyah mem punyai perpustakaan yang di dalamnya terdapat 400 ribu jilid buku. Mehdi Nakosteen menyatakan ada tiga bentuk perpustakaan yang tumbuh di dunia Islam.

Dalam bukunya, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Nakosteen menuturkan perpustakaan itu adalah perpustakaan pribadi, semiumum, dan perpustakaan umum. Khusus perpustakaan pribadi, berapa banyak dan bagaimana nasibnya tak diketahui secara jelas.

Ada sejumlah perpustakaan yang berhasil direkam dalam catatan. Nakosteen mengutip History of Muslim Education yang ditulis Syalaby. Selain Bait al-Hikmah, perpustakaan lainnya adalah Haidari di Najaf, Ibnu Sawwar di Basrah, dan Khazanah Sabur Darul Ilmi di Baghdad.

Perpustakaan semiumum yang terdaftar adalah Nasirudinnullah, al-Mu’tashimbillah, dan perpustakaan khalifah-khalifah Fatimiyyah, sedangkan perpustakaan pribadi di antaranya milik al-Fath bin Khaqan, Hunain bin Ishaq, al-Muwaffaq bin Matram, dan Jamaluddin al-Quifri.

Setelah kertas muncul sebagai media baru untuk menulis, kesempatan terbuka untuk memproduksi dan membeli buku se cara besar-besaran. Keberadaan kertas juga mendorong terwujudnya sebuah profesi, yaitu warraq, yang merupakan penyalur kertas, penyalin, dan penjual buku.

Pada 987, Ibnu Nadim seorang warraq ternama menulis buku tentang kepustakaan berjudul al-Fihrist, menjadi sumber penting bagi sejarah literatur pada masa itu.

Tonggak lainnya, Kasyf al-Zunun karya Katib Celebi. Ia menuangkan pengetahuannya dalam buku itu setelah mengunjungi seluruh perpustakaan besar di Istanbul, Turki.

Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern menguraikan, dalam waktu lama, koleksi perpustakaan besar terpisah-pisah, baik karena kurangnya kepedulian maupun akibat bencana atau perusakan. Pernah terjadi penghancuran besar-besaran oleh tentara Mongol di Baghdad dan saat inkuisisi di Spanyol setelah masa penaklukan kembali.

Pada abad kolonialisme Eropa, terlihat adanya pemindahan ribuan naskah dari dunia Islam ke perpustakaan dan koleksi perorangan sarjana Barat. Yang terkenal adalah perpustakaan Inggris dan Bibliotheque Nasional, Prancis. Pada masa modern, negara-negara Muslim juga mendirikan perpustakaan nasional. Meski menunjukkan kemajuan, hal tersebut berjalan lamban. Perlu langkah strategis umat Islam untuk membangun kembali perpustakaan yang menjadi rujukan, bukan hanya bagi Muslim, melainkan juga bagi masyarakat dunia.

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA