Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Perilaku Mencerminkan Isi Hati

Kamis 11 Apr 2019 15:15 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Dalam Islam diajarkan, isi selalu berpengaruh kepada penampilan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Dalam Islam diajarkan, isi selalu berpengaruh kepada penampilan. Ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, "Dalam setiap tubuh ada segumpal daging. Jika daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah, itu adalah kalbu." (HR Bukhari Muslim).

Baca Juga

Artinya, kalbu yang dimiliki seseorang akan memengaruhi seluruh tubuhnya. Baik buruknya anggota tubuh merupakan cerminan dari baik buruknya kalbu seseorang.

Ibnu Ataillah dalam Kitab Al Hikam menyebutkan, apa yang tampak pada lahiriah seseorang merupakan cerminan dari batiniahnya. Seseorang yang hatinya beriman dan dekat dengan Allah akan terpancar dari tubuhnya. Orang-orang di sekelilingnya bisa menilai dan merasakan bagaimana buruk dan baiknya hati seseorang dengan melihat tingkah laku lahiriahnya. "Sesuatu yang tersembunyi di balik rahasia-rahasia hati dapat terungkap nyata disaksikan dalam realitas kehidupannya," ungkap Ibnu Ataillah dalam Kitab Al Hikam bab ke-28.

Ini pulalah alasannya, seseorang tidak dikatakan beriman hatinya sementara tingkah polahnya masih jahiliyah. Tidak mungkin orang yang saleh hatinya, tetapi berakhlak buruk. Rasulullah pernah menyatakan, tidak beriman seseorang yang tidur dalam perut kenyang, sementara tetangganya kelaparan. (HR Thabrani). Artinya, iman di hati dan praktik dengan tingkah laku merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah RA dikatakan, suatu kali Rasulullah SAW pernah melihat seseorang memainkan jenggotnya ketika shalat. Melihat itu, Beliau SAW pun bersabda, "Seandainya hatinya khusyuk maka khusyuk pula anggota badannya." (HR Tirmidzi).

Artinya, apa yang terlihat dari tindak-tanduk seseorang semuanya lahir dari hatinya. Rasulullah dapat dengan mudah menilai orang yang tidak khusyuk tersebut. Analoginya sederhana saja. Jika fisiknya bermain-main ketika shalat, sudah dipastikan hatinya juga tengah bermain-main. Karena, apa yang ada pada lahiriah asalnya dari batiniah.

Ibarat menilai buah yang sudah matang atau belum, tentu dapat terlihat dari penampilan fisiknya. Dari segi warna, buah yang sudah matang akan berubah dari hijau menjadi kuning. Baunya pun akan semakin sedap untuk disantap. Demikian pula rasanya, akan terasa ranum di lidah. Jadi, interpretasi Islam berlawanan dari pepatah tadi. Dalam Islam, isi akan selalu serupa dengan sampulnya.

Pernahkah Anda rasakan, ketika berada di sekitar orang saleh ada nuansa kesejukan dan kedamaian hati? Memang, hal itu dapat didapati dari segolongan orang yang mempunyai aura baik. Jangankan berinteraksi secara langsung dengannya, melihat kepadanya saja hati sudah tenteram. Jangankan bertemu langsung dengannya, mendengar namanya saja hati sudah rindu.

Namun, ada pula mereka yang tampil dengan sosok antagonis. Entah mengapa, hati terasa sesak saja ketika berada didekatnya. Melihat wajahnya saja sudah membuat kesal. Segagah apa pun penampilannya, tetap saja hati menjadi keruh memandangnya. Mengapa bisa sampai sedemikian itu?

Inilah yang ingin disampaikan Ibnu Ataillah bahwa penampilan lahiriah adalah cerminan dari batiniah. Jiwa yang tenang akan memancarkan aura yang tenang pula. Hati yang tenteram akan membuat jiwa raga, bahkan orang disekelilingnya terasa tentram pula. Jadi, tidak berlebihan rasanya ketika seorang ulama salaf Yusuf bin Husain berpesan, "Bergaullah dengan orang yang apabila engkau memandangnya, dia akan mengingatkanmu kepada Allah."

Yusuf bin Husain berpendapat, setiap orang soleh mempunyai aura kesolehannya. Bahkan, dengan memandangnya saja orang sudah bisa ingat kepada Allah. Lantas, apakah mungkin orang saleh berpenampilan bak orang jahiliyah atau membuka aurat? Apakah mungkin penampilan dengan gaya preman tersebut bisa mengingatkan orang kepada Allah? Lalu, pantaskah bagi orang yang ingin dirinya saleh, tetapi abai dengan tampangnya yang kusut dan memuakkan?

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA