Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Ketika Khalifah Umar Tegas Menghukum Putranya Sendiri

Selasa 26 Feb 2019 14:46 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(ilustrasi) Khalifah Umar

(ilustrasi) Khalifah Umar

Foto: tangkapan layar wikipedia
Khalifah Umar meniru Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang anti-korupsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Betapa tegasnya ajaran Islam melarang umatnya untuk menjauhi korupsi. Jangan sampai kejahatan luar biasa itu justru menjadi kebiasaan, sehingga masyarakat Muslimin menjadi kian permisif.

Kisah-kisah generasi terdahulu dapat menjadi pelajaran tentang betapa kepemimpinan menjadi faktor penting sikap anti-korupsi di tengah masyarakat.

Baca Juga

Kisah Umar bin Khaththab berikut dapat menjadi bahan renungan. Seperti dinarasikan Fuad Abdurrahman dalam The Great of Two Umars. Khalifah kedua itu memiliki seorang putra bernama Abdurrahman.

Suatu hari, anak khalifah itu tertangkap basah sedang menenggak minuman keras bersama dengan kawan-kawannya di Mesir. Bahkan, mereka mabuk dan mengganggu ketentraman umum.

Amr bin Ash yang mengetahui kasus itu segera memerintahkan aparatnya untuk menangkap mereka. Gubernur Mesir tersebut menghukum cambuk Abdurrahman, tetapi tidak di depan umum, melainkan di dalam rumahnya sendiri.

Tentu hal itu dilakukan supaya orang-orang umum tidak banyak yang menyadari bahwa si terhukum adalah anak seorang khalifah telah berbuat dosa.

Bagaimanapun, kabar ini sampai juga di Madinah. Umar bin Khaththab segera mengirim surat kepada Amr bin Ash.

Isinya bernada amarah besar dan instruksi agar bawahannya itu segera memulangkan Abdurrahman kepadanya. Tidak hanya itu, anaknya itu juga diharuskan membungkuk sepanjang perjalanan dari Mesir ke Madinah. Tidak boleh berdiri. Harus membungkuk-bungkuk di hadapan rakyat seluruh negeri.

Umar menegaskan instruksinya itu harus dilaksanakan, padahal dia sudah diberi tahu bahwa Abdurrahman telah dihukum dicambuk.

Maka sampailah Abdurrahman di Madinah. Di lapangan umum, tempat eksekusi akan dijalankan. Sahabat Nabi SAW, Abdurrahman bin Auf sempat meminta kepada Umar agar mempertimbangkan ulang keputusannya.

“Wahai Amirul Mu`minin, Abdurrahman telah menerima hukuman di Mesir. Apa perlu diulang lagi?” kata dia.

Yang ditanya tidak menjawab. Khalifah Umar lantas memerintahkan kepada algojo untuk melaksanakan hukuman cambuk atas Abdurrahman.

Malahan, sesudah algojo melakukannya, Umar sendiri melanjutkan eksekusi tersebut.

Kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena tidak mau menindak tegas kalangan terhormat yang mencuri, tetapi langsung menghukum orang lemah!” seru Umar berkali-kali. Tangannya tetap mencambuk keras tubuh putranya itu.

Abdurrahman tampak sangat kepayahan, kesakitan, dan meraung-raung. Anak muda itu meminta belas kasihan ayahnya.

Bahkan, dikatakannya dengan nada memelas, “Rupanya ayah ingin membunuh saya.” Khalifah Umar tidak peduli. Diteruskannya hukuman cambuk itu.

Ketika sudah tampak tanda-tanda Abdurrahman akan sakaratul maut, sang khalifah justru berkata tegas, “Kalau kau bertemu dengan Rasulullah SAW, sampaikan kepadanya bahwa ayahmu telah melaksanakan hukum.”

Akhirnya, anak laki-laki itu meninggal dunia. Toh kasus tidak berhenti sampai di sana.

Khalifah Umar lantas memerintahkan jajarannya untuk mengusut siapa saja yang menjual dan mengedarkan minuman keras kepada Abdurrahman, kawan-kawan anaknya itu, dan kaum Muslimin Mesir pada umumnya. Hukuman tegas dijatuhkan pada mereka yang terlibat.

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA