Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Menyikapi Keburukan

Selasa 23 Oct 2018 16:11 WIB

Red: Agung Sasongko

Membicarakan keburukan seseorang di media sosial atau tidak secara langsung termasuk penindasan yang kerap dilakukan saat ini. Ilustrasi

Membicarakan keburukan seseorang di media sosial atau tidak secara langsung termasuk penindasan yang kerap dilakukan saat ini. Ilustrasi

Foto: Huffpost
Kebaikan bagi diri berupa pribadi kuat dan sabar.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karman

Setiap yang dianggap buruk belum tentu berdampak buruk bagi diri. Semua bergantung pada cara kita menyikapinya. Jika disikapi dengan positif, keburukan dapat berubah menjadi kebaikan. Sebaliknya, jika disikapi dengan negatif, akan berdampak buruk bagi kehidupan.

Kritik, cemooh, dan ejekan, misalnya, tiga hal yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai hal yang buruk. Padahal, jika disikapi secara positif, akan melahirkan banyak kebaikan. Setidaknya, ada dua kebaikan yang akan diperoleh dari keburukan yang disikapi dengan positif, yaitu kebaikan bagi diri sendiri dan lingkungan.

Kebaikan bagi diri berupa pribadi kuat dan sabar. Dua sifat pribadi ini akan melahirkan akhlak mulia (karimah) dan agung (azhimah). Dua akhlak baik ini mengejawantah pada kebiasaan berbagi, baik berbagi harta, ilmu, maupun berbagi maaf.

Tidak hanya sifat berbagi, dua akhlak baik tersebut akan melahirkan kebiasaan membalas keburukan dengan kebaikan. Sifat berbagi dan membalas keburukan dengan kebaikan inilah pada gilirannya akan mendatangkan kedamaian, kenyamanan, dan kesejukan pada lingkungan sekitar.

Cara menyikapi keburukan dengan sikap positif telah diperlihatkan oleh Allah SWT melalui fenomena pepohonan atau tetumbuhan. Jika dilihat dengan mata telanjang, pohon terlihat diam, tidak bekerja. Padahal, jika dilihat dari sisi ilmu pengetahuan, pohon tidak pernah diam. Ia bekerja siang dan malam.

Melalui akar, ia menyerap kebaikan berupa air dan disalurkannya melalui batang, dahan, ranting, dan daun. Melalui daun, ia menyerap zat buruk berupa sisa pembakaran, yaitu karbon dioksida. Di bagian hijau daun (klorofil), dengan bantuan matahari, zat buruk karbon dioksida bereaksi dengan zat baik air sehingga berubah menjadi glukosa (gula) dan oksigen. Glukosa digunakan untuk menumbuhkembangkan dirinya dan oksigen dibagi untuk kebaikan makhluk hidup yang berada di sekitarnya.

Karena glukosa, pohon tumbuh dengan baik, beranting, berdaun, berbunga, dan berbuah. Buahnya dapat bermanfaat bagi kehidupan makhluk lainnya. Karena pohon bisa berbagi oksigen, siapa pun yang mendekatinya akan merasa sejuk dan nyaman. Jadi, dengan berbekal kebaikan air pada dirinya, pohon bisa mengubah keburukan karbon dioksida menjadi kebaikan. Hasil dari perubahan tersebut bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Sesuatu yang dianggap buruk, tetapi mengandung kebaikan telah dijelaskan oleh Alquran. Perang, misalnya, sering dianggap perkara buruk sehingga banyak yang membencinya. Namun, perang karena membela dan menegakkan agama Allah di dalamnya terdapat banyak kebaikan, baik bagi agama maupun kehidupan lainnya. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah SWT.

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi, boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS al-Baqarah [2]: 216). 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA