Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Jejak Islam di Selandia Baru dan Populasi Muslim yang Tumbuh

Sabtu 16 Mar 2019 12:39 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Salah satu masjid di Selandia Baru yang terletak di pulau utara, tepatnya di kota Hastings.

Salah satu masjid di Selandia Baru yang terletak di pulau utara, tepatnya di kota Hastings.

Foto: Wikipedia
Pertumbuhan populasi Muslim diperkirakan bertambah 100 ribu hingga 2030.

REPUBLIKA.CO.ID, Islam di Selandia Baru mempunyai jejak yang cukup kuat. Islam eksis di negara sejak ratusan tahun lalu.   

Dilansir di New Zealand Journal of Asian Studies VIII berjudul New Zealand's Muslim and Their Organisations, William Shepard menyebutkan Muslim pertama di negara itu adalah 15 penambang emas Cina yang bekerja di Dunstan di Pulau Selatan pada 1874. 

Baca Juga

Sedangkan pedagang gujarat yang datang membuka toko kecil di kota Auckland sebelah selatan. Mereka menetap hingga saat ini.   

Mayoritas populasi berasal dari imigrasi Inggris (Anglo-Celtic) yang dimulai pada 1820-an dan 1830-an dan berlanjut sampai sekarang, orang-orang ini, bersama dengan jumlah yang jauh lebih kecil dari yang lain (predo Miner Utara) negara-negara Eropa, yang biasa disebut 'Pakeha untuk membedakan mereka dari suku Maori asli (orang Selandia Baru suka menyebut diri mereka sebagai orang Kiwi). 

Ada juga sejumlah besar Kepulauan Pasifik (Samoa, Fiji, dll), terhitung sekitar 6 persen dari populasi. 

Puluhan kelompok etnis lain pun ada, hanya saja jumlahnya tak terllau banyak. Kelompok-kelompok Asia terbesar adalah Cina, terdiri dari 2,7 persen dan Asia Selatan sekitar 1,8 persen. 

Komunitas Muslim saat ini didominasi etnis India, imigran pada awal abad ke-20. Mereka juga berasal dari berbagai negara Arab, Malaysia, Indonesia, Iran, Somalia, Balkan, Afghanistan, dan beberapa Pakeha. 

Namun pada 1920, pemerintah Selandia Baru memperketat masuknya imigran dengan membuat aturan pembatasan imigran. 

Sehingga populasi umat Islam di Selandia setelah Perang Dunia II tidak kurang dari 100 orang. 

Pada 1950, anak cucu mereka menikah dan menetap, hingga populasi Muslim di Selandia Baru mencapai 200 orang. 

photo

File foto tidak bertanggal menunjukkan Masjid Al Noor di Deans Avenue, tempat penembakan massal, di Christchurch, Selandia Baru, (15/3/2019).

Pada pertengahan tahun 1960, kebijakan imigran mulai lebih longgar. Sehingga banyak tenaga kerja profesional dari berbagai negara Asia. 

Mahasiswa Muslim juga banyak yang datang untuk melanjutkan pendidikan di universitas Selandia Baru. Sehingga tidak heran, jika jumlah Muslim di masa itu melunjak hingga 2.500 orang pada 1986. 

Setelah 1986, imigran muslim semakin banyak berdatangan. Mereka banyak yang melihat kesuksesan imigran yang telah menetap di Selandia Baru.  

Beberapa diantara mereka yang datang memiliki bebagai keahlian, namun banyak juga dari mereka yang tidak memiliki kemampuan apapun. 

Seorang imigran Somalia mengatakan dia sebelumnya merupakan orang penting di desanya tetapi saat datang ke Selandia Baru dia tidak dapat mencari pekerjaan satupun.  

Berbeda dengan wanita Muslim lokal, mereka lebih mudah mendapatkan pekerjaan meski hanya bekerja di pabrik. Namun wanita yang baru menikah tidak diprioritaskan karena kemampuan mereka yang menurun.  

Terus tumbuh

Muslim di Selandia Baru akan terus tumbuh. Menurut sensus pemerintah Selandia Baru April 1874-an pada 1950 hanya 150 pengikut Islam. Sensus 1996 mencatat populasi Muslim kurang dari 14 ribu.

Tapi sejak 2001, populasi Muslim di Selandia Baru telah meningkat 52,6 persen. 

Menurut sensus terakhir yang dilakukan pada 2006, ada 36.072 pengikut Islam, sebagian besar berasal dari Asia.       

Pada 2030, sesuai data Pew Research center diperkirakan akan bertambah 100 ribu pemeluk Islam baru di Selandia Baru.  

Peneliti dan Psikolog dari Universitas Victoria, Jaimee Stuart, mengatakan pemuda muslim ingin merasa berada di rumah sendiri ketika berada di Selandia Baru. 

“Memiliki orang-orang muda merasa seolah-olah mereka diterima di masyarakat tempat mereka tinggal, gagasan bahwa mereka tinggal di tempat multikultural, benar-benar, sangat penting bagi mereka," jelas dia dilansir di radionz.co.nz.

Untuk melakukan itu, Selandia Baru perlu menutup kesenjangan antara cita-cita simbolis multikulturalisme dan bagaimana berperilaku baik secara pribadi maupun sebagai negara.

“Ketika kami direpresentasikan sebagai orang gila di media, dan hanya ingin berteriak Allahu Akbar di jalan,” kata Hela Rahman, pemuda Muslim Selandia Baru. 

“Itu menciptakan perpecahan antara Muslim dan komunitas umum Selandia Baru, antara pemuda Muslim dan komunitas pemuda umum," katanya menambahkan.  

  

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA