Senin, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019

Senin, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019

Perjuangan Qari Sulteng di Tengah Bencana Gempa

Selasa 09 Okt 2018 08:31 WIB

Red: Ani Nursalikah

Para santri penghafal Alquran (Hafizh) mengikuti kegiatan Parade 1.000 Hafizh di Medan, Sumatera Utara, Kamis (4/10). Kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII/2018 di kota Medan.

Para santri penghafal Alquran (Hafizh) mengikuti kegiatan Parade 1.000 Hafizh di Medan, Sumatera Utara, Kamis (4/10). Kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII/2018 di kota Medan.

Foto: ANTARA FOTO/Septianda Perdana
Siswa berlatih dalam keterbatasan pascagempa, namun tetap semangat.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Persiapan qari asal Sulawesi Tengah Jihran H Lamuma untuk berlaga di Musabaqah Tilawatil Quran XXVII di Sumatra Utara sempat terganggu oleh gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. "Gempa sangat berpengaruh sama kami. Saat gempa saya sedang membaca Alquran. Gempanya sangat kencang. Kami langsung keluar kamar," kata Jihran di Medan, Selasa (9/10).

Siswa SMP Negeri 1 Liang itu mengatakan telah memberikan yang terbaik untuk Sulteng dalam MTQ Nasional kali ini. Saat mengikuti mata lomba di ajang tersebut dirinya melantunkan Surah Al An'am ayat 21.

Selama pelatihan jelang keberangkatan di arena MTQN, dia bersama 50 rekan lain dipusatkan di Asrama Haji Palu. Saat pelatihan terjadi gempa sehingga peserta dipulangkan untuk sementara. Enam hari setelah pemulangan mereka kembali lagi ke pemusatan latihan.

Pada saat pemusatan latihan, terjadi kendala lain yaitu pasokan listrik yang tidak stabil sehingga lampu kerap padam. Kendati begitu, latihan tetap berlangsung selama enam hari.

Pendamping Jihran, Kepala Biro Kesra Sulteng Arnold Firdaus, mengatakan peserta MTQ dari kafilahnya tetap berlatih materi Alquran termasuk saat malam hari menggunakan telepon seluler karena listrik padam. Jika baterai ponsel habis, peserta tetap berlatih menggunakan lilin sebagai penerang Alquran manual.

"Sampai kita berangkat pada 5 Oktober, listrik di Palu masih padam. Jadi berlatih seadanya," kata dia.

Seiring padamnya listrik, dia mengatakan sulit mengambil uang yang ada di anjungan tunai mandiri (ATM), sementara bank di Sulteng juga belum banyak yang buka terdampak gempa. Saat berangkat pula, terjadi kendala penundaan jadwal penerbangan untuk berangkat seiring belum stabilnya kawasan Sulteng pascagempa. Dalam penerbangan juga harus melakukan pindah pesawat nonkomersial menggunakan Hercules menuju Balikpapan 45 menit.

Setelah itu, kata dia, dilanjutkan dengan Hercules lagi selama dua jam menuju Surabaya. "Dari Surabaya baru kami merasakan AC pesawat saat terbang ke Medan. Sungguh luar biasa. Untungnya mereka semua semangat," kata dia.

Dia mengatakan MTQN merupakan kompetisi sakral sehingga harus optimal dalam segala hal bagi Sulteng, termasuk persiapan dan pelaksanaan. "Insya Allah ini menjadi ladang pahala bagi kami membumikan Alquran. Ini perintah Allah. Jadi, kami harus berangkat ke Medan. Semua keluarga juga mendukung. Kami melakukan ini semua untuk warga Sulteng yang sedang berjuang. Insya Allah kami memberikan yang terbaik di ajang ini," kata dia.

Baca juga: Tim Fahmil Quran Kalbar Lolos Semifinal MTQ Nasional

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA