Rabu , 06 December 2017, 18:15 WIB

Paris Miller: Islam Membantuku Memahami Hakikat Tuhan

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf
Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Satu hal yang menjadi daya tarik Islam, menurut Paris, adalah bagaimana agama ini menghormati sosok Yesus. Menolak Trinitas tidak berarti menolak peran Nabi Isa AS (Yesus) sebagai salah seorang utusan-Nya. Dan sejak kecil, Paris sudah dididik mencintai sosok Yesus sebagai manusia yang menyebar banyak kebaikan dan teladan bagi manusia.

"Perpindahan keyakinanku kepada Islam sangat berdasarkan nalar pikiran. Melalui membaca Alquran. Mempelajari Islam sedikit demi sedikit, bagaikan melengkapi kepingan-kepingan //puzzle//, sampai berusaha mendapatkan gambaran yang utuh, "kata Miller seperti dikutip About Islam, belum lama ini.

Motivasi berpikir secara kritis dari diri Mille muncul sejak sosok yang semula menganut Katolik dan mengambil sekte Gereja Baptist dan Methodist ini, mengenyam pendidikan di dunia kampus. Ia kuliah di salah satu perguruan tinggi di Greensbro, tidak jauh dari tempat tinggalnya dan sang ibu Durham, North Carolina, Amerika Serikat (AS).

Paris mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan akademis. Ia bergabung dengan beberapa klub diskusi. Paris membiasakan diri menjadi pribadi yang kritis.  Di kampus itulah ia mulai mengkaji secara serius agamanya sendiri. Hal ini bermula ketika pihak kampus meminta seluruh mahasiswa baru membawa kitab suci masing-masing. Paris pun membawa Injil.

"Hal itu sangat menarik buat saya sebagai seorang Kristen. Kami memulainya (pembahasan) dari Injil Perjanjian Lama. Itulah kali pertamanya saya mempelajari Injil dari perspektif ilmiah, nonkeagamaan. Dan itu bagi saya sangat intelektual, atau katakanlah, akademik. Ini menarik perhatianku karena seperti orang Kristen pada umumnya, saya sebelumnya hanya fokus pada kitab Injil Perjanjian Baru, yang bicara tentang Yesus, "kata Miller.

Miller saat itu bukanlah penganut Katolik yang cukup taat demikian pula sang ibu. Masa kanak-kanak Paris, minim bimbingan agama sampai  menginjak usia remaja. Namun, ia masih suka pergi ke gereja.

Kajiannya atas Injil Perjanjian Lama membuka matanya, bahwa ada yang melampaui konsep-konsep mengenai perbuatan baik antarmanusia dalam ajaran agama. Di dalam agama, ada pula keyakinan mengenai hubungan antara manusia dan Tuhannya.

Dari beberapa diskusi, Paris membuat kesimpulan. Persoalan keesaan Tuhan sebenarnya sudah dijelaskan dalam Injil Perjanjian Lama. Namun, menurut dia, hal itu malah cenderung berseberangan dengan yang selama ini ia jumpai dalam kitab Injil Perjanjian Baru.

Kesimpulan itu cukup mengejutkannya. Sebab, Paris sebelumnya mengira, ada kontinuitas antara Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Selama ini, Paris menjalani agama Katolik sebatas bagaimana seseorang agar berperilaku baik. Kali ini, ia menganggap hal itu tidaklah cukup. Seseorang harus benar-benar memahami inti ketuhanan sesuai agama yang dianut.

Beberapa tahun kemudian, Paris berhasil mendapatkan gelar sarjana. Ia bertunangan dengan pria yang masih satu kampus dengannya, yakni David (bukan nama sebenarnya). Keduanya saling mencintai dan memahami karakteristik masing-masing.

David merupakan pemeluk agama Kristen yang cukup taat. Agak berbeda halnya dengan Paris. Karena itu, Paris berharap ia bisa menjadi istri yang baik bagi David serta ibu yang penyayang bagi anak-anaknya kelak. Tidak membutuhkan waktu lama, David dan Paris memutuskan untuk menikah.

Sebagai tradisi, David meminta Paris agar keduanya menjalani konseling pernikahan terlebih dahulu di sebuah gereja. Karena belum menemukan gereja yang menyelenggarakan konseling demikian, mereka berusaha mencarinya. Hal ini rupanya tidaklah mudah.

Perlu waktu cukup lama bagi mereka berdua. Akhirnya, saat itu ada salah seorang kawan David yang datang menjumpainya, yakni Andy (bukan nama sebenarnya). Ayah Andy merupakan seorang pastor. Mendengar ada gereja yang melayani konseling pernikahan, David dan Paris awalnya begitu senang.

Namun, Paris dan kekasihnya kemudian sama-sama kecewa. Bukan lantaran bimbingan konseling yang diperoleh. Kedua pasangan ini ternyata tidak mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dari sang pastor mengenai hubungan antara manusia dan Tuhan. Tentu, pertanyaan mula-mula diajukan Paris, yang sudah terlatih berpikir kritis semenjak masa kuliah.

"Kami berdua pergi dari satu gereja ke gereja lainnya (untuk konseling). Kami kecewa (kenyataan tak sesuai harapan), "ujar Paris.

"Bagi kami, (kekecewaan) pada soal bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana kita akan terhubung dengan Tuhan. Jadi, kami memutuskan untuk membaca Injil, sekali lagi, untuk diri kami sendiri. Hanya untuk mencoba memahami, apa sesungguhnya yang kami imani."

Bersyahadat

Singkat cerita. Saat melanjutkan sekolah pascasarjana, Paris berjumpa dengan seorang perempuan yang belakangan menjadi kawan karibnya, Fatima. Ia merupakan seorang Muslimah. Dalam sebuah kesempatan, Paris bercerita panjang lebar kepada temannya ini.

Di antaranya, tentang upaya Paris dan calon suaminya menemukan gereja yang bisa memuaskan dahaganya akan beberapa pertanyaan seputar agama. Fatima kemudian mengundang Paris dan calon suaminya ke sebuah masjid.

Dan karena dia (Fatima) juga Mualaf, maka dia paham apa yang sedang terjadi, apa yang kami lalui. Dia lalu mengundang kami ke masjid. Saya ingat, malam itu saya berdiri di depan cermin begitu lama. Lihatlah, memakai jilbab untuk pertama kalinya. Itulah kali pertama saya masuk masjid. Dan saya merasa senang, ujar Paris.

Ternyata, calon suami Paris menyambut ramah ajakan itu. Mereka berdua pun berangkat sama-sama ke masjid.

Saat itu, hari Jumat. Seusai shalat Jumat, calon suami Paris berdialog panjang lebar dengan seorang kawan Paris yang Muslim. Kemudian, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.  

Kebahagiaan Paris terasa lengkap. Sebab, tidak lama kemudian calon suaminya itu memeluk Islam. Pasangan ini akhirnya menikah. Kendati begitu, mereka tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga-asal masing-masing.

Memeluk Islam membuatku merasa lebih sadar diri. Saya merasa lebih peka ketika berhadapan dengan orang-orang, baik itu Muslim maupun bukan. Saya menjaga hubungan baik dengan keluarga saya. Saya merasa tidak lagi egoistis. Saya merasa menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar, kata Paris.