Sabtu , 10 Juni 2017, 23:11 WIB

Dai Cordofa Bimbing Warga Filipina Bersyahadat

Red: Agung Sasongko
Dok Dai Cordofa
Mualaf Filipina
Mualaf Filipina

REPUBLIKA.CO.ID, MAKAU -- Namanya Desi. Siang itu dia duduk bersama ratusan Muslimah asal Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran di Macau. Perkumpulan majelis taklim masyarakat Indonesia di Makau, hari itu mengadakan kegiatan Pondok Ramadhan di Masjid Mo Lo Yuen, Macau.

Desi datang bersama temannya, yang kebetulan orang Indonesia. Ahad (27/5) itu dia hadir dengan niat bulat untuk memeluk Islam, beralih dari agama sebelumnya, Katolik.

Ia warga negara Filipina yang sudah setahun ini bekerja di Macau. Sebetulnya Desi sudah tertarik pada Islam sejak ia bekerja di Malaysia beberapa tahun lalu. Kebetulan majikannya keluarga muslim.

Di Malaysia itu pula ia melihat bahwa Islam adalah agama terbaik. Kesan itu tersimpan rapat-rapat dalam kalbu sanubarinya. Namun, itu belum membuatnya bersyahadat, padahal Malaysia negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Barulah ketika berada di Macau, negara yang terkenal sebagai pusat judi di Asia, hatinya justru semakin kuat untuk memeluk Islam. Kebetulan teman dekatnya yang orang Indonesia membantu Desi untuk kenal Islam.

Setahun ini ia tekun belajar tentang Islam. Dibacanya berbagai buku tentang Islam baik yang didapatnya sendiri atau yang dipinjam dari temanya. Dan, Ahad kemarin Allah SWT benar-benar memantapkan hatinya untuk memeluk Islam. 

Di hadapan Dai Ambassador yang dikirim Dompet Dhuafa dan ratusan jamaah yang hadir, Desi mengikrarkan syahadatnya. Desi resmi menjadi mualaf dalam keadaan sedang puasa di siang itu.

Dai Cordofa (Corps Dai Dompet Dhuafa), Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, yang menuntunnya bersyahadat, memberinya nama Islam “Fathima”. “Harapannya agar dia bisa seperti putri Rasulullah Saw dan istri Sayyidina Ali itu,” kata Syarif yang juga dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

“Meskipun keislamannya bukan karena saya, tapi ikut menghantarkannya menjadi Muslimah tentu merupakan karunia tersendiri bagi saya. Apalagi ini pengalaman pertama saya mengislamkan. Semoga iman dan Islam dibawanya hingga nafas terakhirnya,” pungkas Syarif.