Selasa , 18 April 2017, 14:36 WIB

Juan Galvan Temukan Tujuan Hidup dalam Islam

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Allah telah berjanji bahwa Dia akan memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan bila hidayah itu akan diberikan, tak ada yang sanggup mencegahnya. Hidayah bisa diberikan kepada siapa saja, baik pejabat, pengusaha, petani, nelayan, maupun lainnya.

Dalam Alquran dijelaskan bahwa sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah agama Islam (QS Ali Imran [3]: 19). Islam itu agama yang agung dan tinggi. Tidak ada yang melebihi keagungan agama Islam.

Islam tidak memaksakan seseorang untuk memilihnya. Islam mengajarkan umat manusia untuk berpikir tentang kebenaran dan hakikat penciptaan alam semesta. Karena itu, Pencipta alam semesta itulah yang layak untuk disembah. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS al-Baqarah [2]: 256).

Atas kebenaran segala firman Allah itulah, Juan Galvan, seorang warga Texas, Amerika Serikat (AS), tertarik dengan Islam dan akhirnya memutuskan untuk menjadi pemeluknya. Juan Galvan pertama kali mengenal Islam dari seorang kenalannya bernama Armando. Armando adalah seorang Muslim Latin.

Orang Amerika keturunan Meksiko selalu beranggapan nenek moyang mereka adalah orang Katolik Roma. Sebenarnya, nenek moyang kami di Spanyol adalah Muslim dan di Meksiko nenek moyang kami penyembah berhala. Berpegang teguh pada sebuah agama semata karena tradisi keturunan adalah tidak masuk akal.

"Saya menolak untuk menjadi pengikut buta. Saya menjadi Muslim karena saya yakin dengan kebenaran Islam," kata Galvan.