Selasa , 21 March 2017, 01:50 WIB

Ini Kisah Opsir Guantanamo yang Bersyahadat

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Guantanamo
Mualaf/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puncak dari kondisi psikologis ini adalah keinginan bunuh diri (suicidal thought). Atasannya yang mengamati perubahan drastis pada diri Terry memanggilnya. Kepada bosnya ini, Terry secara jujur mengakui bahwa sempat terlintas dalam pikirannya mengakhiri hidup. Sebab, ia tidak tahan dengan kondisi penjara Guantanamo yang melampaui kemanusiaan.

Orang-orang yang kita siksa setiap hari hanya menjalankan kepercayaan dan iman mereka. Sama saja dengan kita yang menjalani hidup, kata Terry saat itu kepada atasannya tersebut. Namun, Terry hanya mendapatkan respons yang ringan. Atasannya itu bahkan menganggap Terry hanya belum terbiasa dan masih perlu beradaptasi dengan kultur Guantanamo. Terry begitu kecewa dengan jawaban ini.

Akhirnya, keberanian membuncah dalam diri Terry.

Enam bulan sejak dipindahkan ke Guantanamo, Terry siap menerima Islam, agama yang dipeluk oleh mayoritas tahanan. Pada 29 Desember 2003, di hadapan tahanan Muslim yang kelak menjadi sahabatnya, Errachidi, Terry mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi ini dilangsungkan secara diam-diam tanpa ada kawannya sesama penjaga tahu. Itu dilakukan di sel tahanan Errachidi.

"Tidak ada Tuhan selain Allah. Dan Nabi Muhammad (SAW) adalah utusan Allah,"ujar Terry.

Sejak saat itu, Terry mulai menjalani hidup secara islami. Dia menjauhi minuman yang memabukkan. Satu kesulitan yang paling besar, menurut Terry, adalah shalat lima waktu.

Ia terus mencoba secara sembunyi-sembunyi menunaikan ibadah tersebut agar tidak diketahui kawan-kawannya sesama penjaga Guantanamo, apalagi atasannya. Sebagai dalih, Terry sering izin ke kamar mandi.

Padahal, ia hanya melaksanakan shalat. Di samping itu, Terry juga terus melanjutkan diskusi secara sembunyi-sembunyi dengan para tahanan yang pakar Islam.

Semenjak menjadi Muslim, Terry makin menderita dengan pekerjaannya. Ia memang memiliki kebebasan, sesuatu yang dilucuti dari diri para tahanan. Namun, hati nuraninya tak bisa berbohong. Betapa menyengsarakan masa-masa dinas di Guantanamo ini bagi Terry.

"Saya merasa diperbudak oleh sistem militer. Padahal, saya punya kebebasan yang mereka (para tahanan) tidak miliki,"kata Terry. Akhirnya, pada musim panas 2004, Terry menuntaskan masa baktinya di Guantanamo. Tak lama kemudian, ia melepaskan fungsinya di kemiliteran AS. Dia didakwa mengalami gangguan psikologis.

Sampai kini, Terry terus berupaya menjadi seorang Muslim yang taat. Betapa pun mengerikan pengalamannya selama di Guantanamo, Terry mengambil sisi baik. Ia rasa-rasanya tidak akan menemuka hidayah Islam bila tidak ditugaskan ke sana.