Selasa , 21 March 2017, 01:50 WIB

Ini Kisah Opsir Guantanamo yang Bersyahadat

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Guantanamo
Para tahanan Muslim melaksanakan shalat berjamaah di Kamp IV penjara Guantanamo, Kuba. Foto diambil pada 5 Agustus 2009 silam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat itu, kejadian WTC 9/11 sudah lewat beberapa lamanya. Namun, dinas kemiliteran rupanya mewajibkan para calon penjaga Guantanamo mengikuti sesi indoktrinasi dua pekan lamanya. Mereka diberangkatkan ke New York untuk melihat langsung Ground Zero, lokasi kejadian nahas tersebut.

Terry masih mengingat jelas pesan-pesan komando AS kepada para prajurit, termasuk dirinya ketika menyambangi situs Ground Zero. Di sana, terdapat daftar panjang nama-nama korban Tragedi WTC.

Rupanya, para prajurit yang akan dikirim ke Guantanamo ditanamkan di dalam diri mereka stigma-stigma terhadap Islam. Wajah Islam yang ditampilkan hanyalah kebencian, terorisme, dan terutama Usamah bin Ladin.

Pekan-pekan awal Terry di Guantanamo, ia bertugas membersihkan lantai, mengumpulkan sampah, dan patroli. Ia dan para penjaga lain berkewajiban memeriksa para tahanan agar tertib. Selain itu, para tahanan juga selalu ditakut-takuti dengan ancaman verbal atau interogasi di ruangan yang pekat dan gelap.

Waktu di Guantanamo, saya sama sekali tidak memahami Islam. Jadi, ada semacam gegar budaya yang saya alami. Justru, di sanalah muncul keinginan saya mengenal lebih lanjut. Saya banyak mengobrol dengan sejumlah tahanan mengenai politik atau cara mereka hidup dan budaya mereka, ujar Terry mengenang.

Namun, sikap Terry ini dibaca sebagai keramahan oleh kawan-kawannya sesama penjaga. Saat itu, Terry merasa dijauhi oleh mereka. Di sisi lain, beberapa tahanan menjuluki Terry penjaga yang baik.

Terry juga mulai mempertanyakan sesi interogasi yang dinilainya melampaui batas-batas kewajaran. Sejumlah tahanan yang Muslim dilarang menunaikan shalat lima waktu.