Kamis , 02 March 2017, 17:05 WIB

Annaba Center, Didik Mualaf di Pesantren

Red: Agung Sasongko
RAHMAN SADLY/REPUBLIKA.CO.ID
Syamsul Arifin Nababan
Syamsul Arifin Nababan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Sejak 2006, Pesantren Mualaf An Naba’ Center eksis mendampingi mualaf. Yayasan Pembinaan mualaf itu digagas oleh Syamsul Arifin Nababan.

Motivasinya membina mualaf yang kerap tak terjamah. Mereka ditempa dengan ilmu keislaman. Konsep pembinaannya melalui pondok pesantren. Secara fisik pesantren mualaf telah berdiri sejak 2008 di kawasan Sektor Sembilan Bintaro, Tangerang.

Sedangkan sebelumnya, Syamsul yang juga mualaf melakukan pembinaan secara berpindah- pindah dari masjid ke masjid. Kini dengan adanya pondok pesantren, pembinaan mualaf bisa lebih fokus lagi.

Pembinaan yang dilakukan di Pondok Pesantren An Naba’ bagi mualaf perempuan dan laki-laki. Namun, yang boleh mondok hanya mualaf lelaki. Awalnya ada sekitar 50 mualaf, kini jumlahnya tinggal 20 orang. Mereka mayoritas berusia muda, para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Timor Leste, Sumatra Utara, Pulau Nias, keturunan Cina, Bangka, dan Manado.

Pembinaannya berupa akidah, membaca Alquran, fikih, tafsir Alquran, dan bahasa Arab. Seperti pesantren umumnya, selama tiga tahun mereka digembleng belajar tentang Islam. Semua ini dilakukan gratis, tanpa pungutan biaya dari mualaf. Hasilnya sudah terlihat, kata pria asal Sumatra Utara ini, iman Islam mereka yang tadinya hanya 60 persen, 70 persen, sekarang 100 persen.

“Selama berada di pondok, kini mereka sudah ‘militan’. Mereka mantap dengan pilihannya memeluk Islam,” tegas ustaz yang aktif membina mualaf sejak 1998.

Dalam menjalankan dakwah kepada mualaf, Syamsul mengaku hampir tidak ada kendala, kecuali masalah dana. Bila ada sokongan dana, ia yakin mobilitas pembinaan mualaf akan semakin tinggi.

Masalah finasial pula yang menjadi alasan An Naba’ Center sementara ini hanya konsen untuk urusan pembinaan. Sedangkan pemberdayaan mualaf hingga kini belum ada. “Kita belum ada dana, sehingga pemberdayaan ekonomi dan sumber daya untuk mualaf belum dilakukan di sini. Tapi, ke depan saya berharap ada pemodal atau lembaga zakat yang konsen sehingga pemberdayaan mualaf bisa dilakukan di An Naba’ Center,’’ tambah Syamsul yang menjadi mualaf sejak 1991.