Rabu , 01 March 2017, 18:00 WIB

R Zakaria Subiantoro Terkesan dengan Cara Umat Islam Beribadah

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Shalat
Shalat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi R Zakaria Subiantoro, Islam bukanlah sesuatu yang begitu asing. Sejak bersekolah SD hingga SMA, pria kelahiran Tulungagung, November 1960, ini banyak bergaul dengan kawan-kawan Muslim.

Kendati demikian, masa kecilnya dihabiskan bersama dengan kakek dan neneknya penganut Kejawen. Adapun kedua orang tuanya beragama Katolik. Ketika memasuki pendidikan SMP, ia memperoleh nama baptis Zakarias.

Kedua orang tua Subiantoro terbilang cukup taat. Oleh mereka, Subiantoro kecil didaftarkan dalam sekolah minggu yang digelar sehabis ibadat misa rutin. Namun, pengaruh kedua orang tua mulai memudar ketika Subiantoro memasuki usia remaja. Tepatnya ketika lulus SMA pada 1980 di Malang, hingga menjalani status sebagai mahasiswa di kota yang sama.

Sebabnya, Subiantoro telah menjadi lelaki yang mandiri. Pada 1984, ia diterima bekerja pada sebuah bank konvensional. Kariernya menanjak dari sekadar tukang fotokopi sampai menjadi pegawai tetap. Dalam masa mapan itulah, hidayah datang kepadanya.

Saya masuk Islam sambil terus bekerja. Pada 1994, saya masuk Islam. Umur ketika itu 34 tahun. Tetapi, memang baru betul-betul mempelajarinya (Islam) sejak tahun 2000, kata Subiantoro saat dihubungi, Kamis (23/2).

Ia mengaku menjadi Muslim melalui proses yang cukup panjang. Awalnya, Subiantoro mengenang, ia terkesan dengan cara orang-orang Islam beribadah setiap hari ke masjid. Sejak kecil, ia melihat bagaimana kawan-kawannya berbarengan ke masjid seiring dengan suara azan yang menyeru setiap matahari terbenam.

Jadi, ada ketenangan saat melihat yang seperti itu, ujarnya.

Momentum peralihan iman bermula dari jalinan cintanya dengan Ina (bukan nama sebenarnya). Gadis itu ia temui pertama kali dalam sebuah kesempatan pendidikan kilat (diklat) tentang Bank Perkreditan Rakyat (BPR) se-Jawa Timur sekitar 1992.

Saat itu, kenang Subiantoro, Ina belum betul-betul menyadari bahwa pria yang mendekatinya ini bukanlah seorang Muslim. Belakangan, menjelang keduanya hendak meningkatkan hubungan ke arah yang lebih serius, barulah persoalan perbedaan agama ini mengemuka.

Jalan tengahnya, Subiantoro sempat mencurahkan kegelisahannya ini kepada Ibunda. Ia ingin beralih agama menjadi Muslim. Sosok Ibu ternyata lebih menerima kemandirian Subiantoro sebagai sosok yang bebas menentukan jalan hidupnya. Namun, terhadap sang Ayah, ia mengaku sempat terputus jalinan komunikasi hingga enam tahun lamanya.

Kalau Ibu (mengatakan), 'Ya selama kamu lebih baik, maka tak masalah.' Sedangkan, kalau Bapak, lama sekali jadinya kami tak berbicara satu sama lain, ujarnya menjelaskan.