Senin , 09 July 2012, 21:12 WIB

Kisah Sahabat Nabi: Usaid bin Hudhair, Jagoan yang Dicintai Malaikat (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Wordpress.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Secara khusus, kaum Anshar ialah mereka yang secara tulus berjihad dengan harta dan jiwa mereka untuk menolong Rasulullah dalam menegakkan panji-panji Islam.

Mereka bukan sekadar menolong kehadiran kaum Muhajirin dari Kota Makkah, tetapi sudah menganggap bahwa kaum Muhajirin adalah saudara seiman yang amat mereka cintai.

Setelah Rasulullah SAW wafat, terdapat segolongan Anshar yang dikepalai oleh Sa’ad bin Ubadah, yang mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang Khalifah atas kelompok Muhajirin.

Alasannya, bukankah kaum Anshar yang telah membantu Nabi SAW di awal kehadirannya di Madinah dulu. Sehingga mereka merasa lebih pantas menerima amanah mulia memegang kepemimpinan atas kaum Muslimin.

Ungkapan tersebut tentu saja mengundang reaksi dari kaum Muhajirin. Apalagi suasana kaum Muslimin sedang dalam keadaan berkabung. Adu debat pun tidak lagi dapat dielakkan. Siapakah yang lebih berhak memegang tampuk kekuasaan umat Islam, kaum Anshar atau Muhajirin.

Ketika suasana semakin memanas, maka Usaid bin Hudhair sebagai salah seorang tokoh dari kalangan Anshar tampil mendinginkan suasana. Kepada kaumnya ia berkata, “Bukankah tuan-tuan mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah dari golongan Muhajirin? Karenanya Khalifah juga sewajarnya dari golongan Muhajirin! Dan kita adalah pembela Rasulullah, maka kewajiban kita sekarang adalah membela Khalifahnya.”

Kata-kata kunci yang disampaikan Usaid mengakhiri percekcokan yang nyaris memecah belah persaudaraan itu.

Siapakah lelaki penyelamat berotak cerdas bernama Usaid ini? Dia adalah seorang pemimpin suku Aus, kabilah dari Yaman yang bertransmigrasi ke Madinah bersama saudaranya suku Khazraj. Belakangan kedua kabilah ini kemudian menetap di sana.

Ayahnya adalah Hudlairul Kata’ib, seorang sesepuh Aus dan salah seorang bangsawan Arab di zaman jahiliyah. Sebelum kehadiran Islam, kendati bersaudara, kedua suku besar tersebut selalu terlibat bentrok satu sama lain. Sekalipun begitu, di saat lain mereka sama-sama menghadapi musuh bebuyutan dari golongan Yahudi.

Yahudi ini merupakan minoritas nonpribumi yang menguasai perekonomian di Madinah. Sedikit banyak hal itu membuat golongan pribumi merasa iri. Sakit hati itu bertambah membengkak karena orang-orang Yahudi bersikap angkuh dan takabur.







Sumber : 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni