Kamis , 07 December 2017, 16:30 WIB

Di Balik Klaim Zionis Israel

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Yerusalem
Yerusalem

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tiga pedoman dasar yang menjadi rujukan Yahudi dan Israel atas Palestina diatas, membuat Zionis Israel leluasa untuk menguasai Palestina. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian terhadap warga Palestina. Dalam catatan sejarah, ratusan ribu warga Palestina telah menjadi korban dan ratusan ribu lainnya terusir dari Palestina akibat kekerasan dan kekejaman Yahudi.

- Deklarasi Balfour

Berdasarkan klaim teologis dan dukungan dari Deklarasi Balfour tahun 1917, warga Yahudi mulai menguasai Palestina. Tokoh Zionis Yahudi menyebarkan opini bahwa Palestina adalah Tanah air tanpa rakyat yang diperuntukkan bagi Yahudi.

Tahun 1917, terdapat sekitar 600.000 orang Arab di Palestina dan sekitar 60.000 orang Yahudi. Pada tahun 1947, warga Yahudi hanya berjumlah 608.225 jiwa, sedangkan Arab Palestina mencapai 1.237.332 jiwa.

Mulai tahun 1936-1939, pemerintah Mandat Inggris bersama kekuatan Zionis, melakukan pembantaian terhadap warga Palestina. Tanggal 18 Junin 1936, 6.000 orang kehilangan tempat tinggal. Sekitar 196 pejuang Palestina dihukum gantung dan 50.000 orang terbunuh serta 300 orang di penjara seumur hidup.

- Paska Resolusi PBB 1948

Setahun sebelum resolusi PBB tentang pembagian wiilayah Palestina, jumlah kekuatan angkatan bersenjata zionis yang bekrjasama dengan Inggris mencapai 14.411 orang. Kelompok bersenjata inilah yang kemudian melakukan berbagai aksi terorisme di Palestina.

Pada 9 April 1948, kelompok zionis dibawah pimpinan Irgun membunuh 254 penduduk Palestina, diantaranya wanita, anak-anak dan orang jompo. Dalam bukunya The Revolt, Begin menulis, seandainya tidak ada peristiwa pemboman itu di Deir Yasin, tentu tidak akan pernah berdiri bangsa Israel.

Tahun 1951, Israel membom warga Yahudi Irak di Sinagog Masauda Shem-Tov karena enggan berimigrasi ke Israel. Sebanyak tiga orang tewas dan 24 lainnya luka-luka.

Kolonisasi Israel atas Palestina telah menyebabkan terusirnya jutaan warga Palestina. Gelombang pertama pada tahun 1948, sebanyak 726.000 atau dua pertiga dari 1,2 juta warga Palestina terpaksa mengungsi keluar Palestina. Gelombang kedua pada tahun 1967, sebanyak 323.000 orang.

Tahun 1982, saat menjabat sebagai menteri pertahanan Israel, Ariel Sharon, mengerahkan sebanyak 90.000 tentara Israel ke Lebanon yang didukung 1200 truk pasukan, 1300 tank dan 634 pesawat perang, dalam waktu seminggu, sebanyak 200.000 rakyat Lebanon kehilangan tempat tinggal, dan sekitar 20.000 orang terluka dan terbunuh.

Kemudian ketika terjadinya perang teluk hingga melawan kelompok PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) dan Hamas, Israel terus melancarkan serangannya kepada warga Palestina. Sampai saat ini, lebih dari 1,2 juta warga Palestina berada di luar negeri karena mengalami trauma akibat serbuan israel.

Karena sikap keras zionis ini, warga Yahudi sendiri yang berada di luar negeri juga enggan pulang. Mereka berada di Rusia, Inggris, Belanda, Amerika Serikat dan negara lainnya. Lebih dari 1,9 juta warga Yahudi paska kekejaman Hitler (Nazi), memilih bergabung dengan Uni Soviet (Rusia), dan tahun 1943 populasi Yahudi di Amerika Serikat mencapai 5 juta jiwa.